WE DEFEND ISLAM

A topnotch WordPress.com site

Category Archives: Hadiths

Freedom of religion and apostasy in Islam

By Abu Amina Elias

In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful

Freedom of religion and apostasy are major issues challenging Muslims in our times. On one hand, we know that Islam strictly prohibits compulsion in religion. On the other hand, classical Islamic law has prescribed the death penalty for apostasy. These two aspects of our faith exist in tension with one another and the news media often highlights controversial cases in which someone in the Muslim world has been charged with apostasy. Each time we hear of these cases the Muslims erupt into bitter arguments, some siding with religious freedom and others siding with harsh punishment.

How can we reconcile these two teachings and find the moderate, middle path to which Islam calls us?

Freedom of Religion

Islam guarantees religious freedom for non-Muslims and prohibits forced conversion and spreading the religion by violence. This teaching is established in numerous verses of the Quran and in the Prophet’s practice.

Allah said:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

There is no compulsion in religion. The truth is distinct from error.

Surah Al-Baqarah 2:256

And Allah said:

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

Say: The truth is from your Lord. So whoever wills let him believe, and whoever wills let him disbelieve.

Surah Al-Kahf 18:29

The Prophet would peacefully call people to the religion with beautiful preaching and sound arguments. Read more of this post

Advertisements

Part 13-Menjawab tuduhan redaksipetang.blogspot.co.id (Nabi menghalalkan pembunuhan-Tentang tekstual surat 2:190-191-Etika Perang)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html


“redaksipetang.blogspot.co.id” menuliskan:

Kitab Suci sebelumnya mengajar ”Kasihilah sesamamu manusia” (Im 19:18, Mat 5:44), namun ”nabi terakhir” mengajar ”perangilah musuh Allah dan rasul-Nya (Muhammad) (S 2:190-191, 9:5, 123; 47:4 dll.) bahkan menghalalkan membunuh orang Yahudi dan Kristen yang adalah Umat Perjanjian-Nya (S 9:29)

Sudah saya terangkan tentang “Mengasihi sesama manusia dan berbuat kebaikan” pada lembaran sebelumnya. Silahkan baca:

Para missionaris Kristen lebih banyak mengutip ayat-ayat dari apa yang dikatakan para Anti Islam di website yang mereka temukan tanpa meninjau lebih dalam dan menggali apa makna dan asal-usul dari ayat-ayat yang bersangkutan. Anda bisa mengatakan bahwa mereka “IGNORANCE” (the lack of knowledge or education / Kebodohan, ketidak-tahuan). Disini akan saya buktikan.

Saya akan bahas secara TEKSTUAL ayat-ayat 190,191,192,193 dan 194 dari surat Al-Baqarah. Disini saya akan tunjukkan ETIKA PERANG DALAM ISLAM yang disarikan dari ayat-ayat tersebut. Pembahasan BELUM MENYANGKUT KONTEKS dari ayat-ayat.

2:190
Sahih International

Fight in the way of Allah those who fight you but do not transgress. Indeed. Allah does not like transgressors.

Indonesian

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

ETIKA PERANG :
1. Perangi mereka YANG MEMERANGIMU. (Jangan memerangi yang tidak bersalah / self defense).
2. JANGAN MELAMPAUI BATAS didalam peperangan.

Read more of this post

Part 11-Menjawab tuduhan redaksipetang.blogspot.co.id (Pemindahan kiblat)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html


“redaksipetang.blogspot.co.id” melanjutkan:

Kiblat sembayang berpindah dari kota suci Yerusalem ke kota Mekkah, setelah orang Yahudi menolak kenabian Muhammad (S 2:144 & 27:91)

Sayang sekali bapak-bapak missionaris belum belajar sejarah pemindahan KIBLAT dari biografi Nabi Muhamamd SAW dan ayat Al-Qur’an. Tidak pernah ditemukan keterangan bahwa Pemindahan KIBLAT dilakukan karena para Yahudi menolak kenabian.
Dari Al-Qur’an surat: 2:144
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Read more of this post

Part 7B-Kyai Haji Saifuddin Ibrahim-Kebodohan dan Kebohongannya (Muhammad dalam kitab terdahulu-Kisah Salman al-Farisi)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html

2. Nubuat kedatangan Nabi Muhammad dari kisah Salman Al-Farisi.

Dari WIKIPEDIA.

Salman the Persian or Salman al-Farsi (Arabic: سلمان الفارسي‎‎), born Rouzbeh (Persian: روزبه‎‎), was a companion of the Islamic prophet Muhammad and the first Persianwho converted to Islam. During some of his later meetings with the other Sahabah, he was referred to as Abu Abdullah (“Father of Abdullah”). He is credited with the suggestion of digging a trench around Medina when it was attacked by Mecca in the Battle of the Trench. He was raised as a Zoroastrian, then attracted to Christianity, and then converted to Islam after meeting Muhammad in the city of Yathrib, which later became Medina. According to some traditions, he was appointed as the governor of Al-Mada’in in Iraq.

Informasi tentang Nabi yang akan datang.

Birth and early life

Salman was a Persian born either in the city of Kazerun in Fars Province, or Isfahan in Isfahan Province, Persia.[3][5][6] In a hadith, Salman also traced his ancestry toRamhormoz.[7][8][9] The first sixteen years of his life were devoted to studying to become a Zoroastrian magus or priest after which he became the guardian of a fire temple, which was a well-respected job. Three years later in 587 he met a Nestorian Christian group and was so impressed by them. Against the wishes of his father, he left his family to join them.[10] His family imprisoned him afterwards to prevent him but he escaped.[10]

He traveled around the Middle East to discuss his ideas with priests, theologians and scholars in his quest for truth.[10] During his stay in Syria, he heard of Muhammad, whose coming has been predicted by Salman’s last Christian teacher on his deathbed.[5] Afterwards and during his journey to the Arabian Peninsula, he was betrayed and sold to a Jew in Medina. After meeting Muhammad, he recognized the signs that the monk had described to him. He converted to Islam and secured his freedom with the help of Muhammad.[3][5] Abu Hurairah is said to have referred to Salman as “Abu Al Kitabayn” (The father of the two books, i.e., the Bible and the Quran) and Ali is said to have referred to him as Luqman al-Hakeem (Luqman the wise – reference to a wise man in the Quran known for his wise statements)[11]

Kisah lengkap kehidupan Salman Al-Farisi hingga memeluk Islam

https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/07/kisah-salman-al-farisi.html

Salman al Farisi, adalah seorang lelaki Persia dari Negeri Ashfahan. Ia sangat total dengan ajaran Majusiah, sampai bertugas sebagai penjaga sulutan api, yang selalu menyalakannya, tidak membiarkannya padam meskipun sejenak. Orang tuanya seorang kepala distrik, mempunyai ladang yang luas.

Suatu hari, lantaran kesibukannya, sang ayah berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, aku sedang sibuk membangun tempat ini hari ini, hingga tak sempat memeriksa ladang. Pergilah engkau dan lihat”.

Salman pun pergi menuju ladang keluarganya. Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah gereja Nashara. Di situ, ia mendengar suara-suara mereka saat mengerjakan shalat. Pemuda Salman tidak mengerti apa yang mereka kerjakan, lantaran ayahnya menahannya di dalam rumah. Begitu melihat cara shalat mereka, benar-benar membuat Salman terkagum-kagum. Akhirnya, tertarik dengan tingkah-laku mereka.

Salman berkata: “Demi Allah, ini lebih baik dari ajaran agama yang sedang kami peluk. Demi Allah, aku tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam”. Ladangnya pun tidak ia pedulikan, tidak jadi mendatanginya.

“Dari mana asal agama ini?” tanya Salman kepada mereka.
Mereka menjawab,”Di Syam.”

Kemudian Salman pulang ke rumah. Ternyata sang ayah telah mengutus seseorang untuk mencarinya. Kontan saja, ketika Salman sampai rumah, ayahnya bertanya: “Kemana saja engkau? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk melakukan sesuatu?”

Salman menjawab,”Tadi aku melewati sejumlah orang sedang mengerjakan shalat di sebuah gereja. Pemandangan praktek agama yang aku lihat membuatku takjub. Demi Allah, aku di sana terus bersama mereka sampai matahari terbenam”.

Ayahnya berkata,”Anakku, tidak ada kebaikan pada agama itu. Agamamu dan agama nenek-moyangmu lebih baik darinya.”

Salman menolak anggapan ayahnya: “Sekali-kali tidak, demi Allah. Sesungguhnya agama itu lebih baik dari agama kita”.

Kemudian ayahnya mengancam anaknya itu, mengalungkan rantai di kaki dan menahan Salman tetap di dalam rumah.[1]

Dalam keadaan seperti itu, Salman meminta seseorang untuk menemui orang-orang Nashara, untuk menyampaikan, jika datang rombongan pedagang Nashara dari Syam kepada mereka, agar memberitahukan kepadanya. Kemudian ia pun mendapat berita yang ia inginkan.

Ketika para pedagang Nashara ini hendak pulang kembali ke negeri mereka, maka rantai besi yang melilitnya, ia putuskan dan kemudian Salman pergi bersama mereka, dan akhirnya sampai ke Syam.

Sesampainya di Syam, Salman bertanya: “Siapakah orang yang terbaik dari para pemeluk agama ini?”

Mereka menjawab: “Uskup yang berada di dalam gereja”.

Salman pun mendatangi orang yang dimaksud, lantas berkata: “Sesungguhnya aku menyukai agama ini dan ingin hidup bersamamu. Melayanimu di gereja, belajar denganmu dan mengerjakan shalat bersamamu”.

Uskup itu menjawab: “Masuklah!”

Akan tetapi, ternyata pendeta tersebut seorang yang berperangai buruk; menyuruh orang bersedekah dan menganjurkannya. Bila barang-barang telah terkumpul padanya, pendeta itupun menyimpannya untuk kepentingan pribadi, bukan untuk para fakir-miskin. Bahkan pendeta itu berhasil mengumpulkan tujuh tempayan berisi emas dan perak. Serta merta, kebencian kepada lelaki tersebut menyelinap pada diri Salman, begitu menyaksikan perbuatan sang pendeta.

Hingga saatnya kematian menjemput sang pendeta. Orang-orang Nashara berkumpul untuk menguburnya. Salman pun membuka kedok pendeta ini.

Salman berkata,”Sesungguhnya ini orang jelek. Memerintahkan kalian untuk bersedekah dan menganjurkannya. Bila kalian sudah menyerahkan kepadanya, ia menyimpannya untuk kepentingannya sendiri, tidak memberi kaum miskin apapun.”

Orang-orang bertanya: “Darimana engkau tahu?”
“(Mari) aku tunjukkan simpanan hartanya,” jawab Salman.
Mereka menjawab,”Tunjukkan kami.”

Salman menuju tempat penyimpanan harta si pendeta itu. Orang-orang pun akhirnya berhasil mengeluarkan dari tempat itu sebanyak tujuh tempayan penuh dengan emas dan perak. Setelah menyaksikan, mereka berseru: “Demi Allah, kami tidak akan menguburnya selama-lamanya,” maka mereka lantas menyalib lelaki tersebut dan melemparinya dengan bebatuan.

Kemudian, orang-orang mengangkat lelaki lain sebagai penggantinya. Keadaan lelaki ini lebih baik dari yang terdahulu, lebih zuhud terhadap dunia dan sangat memperhatikan masalah akhirat. Tidak ada orang yang lebih menjaga malam dan siangnya dari orang ini. Salman sangat mencintainya. Untuk beberapa lama, ia hidup bersama pendeta ini. Hingga saat ajal mendatangi pendeta itu, Salman berkata kepadanya.

“Wahai Fulan, aku telah bersamamu, benar-benar mencintaimu dengan kecintaan yang besar. Sementara itu, telah datang kepadamu keputusan Allah yang telah engkau saksikan (kematian). Kepada siapakah engkau berpesan bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Ia menjawab,”Wahai anakku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun sekarang ini yang berada di atas ajaranku. Orang-orang sudah binasa dan merubah-rubah (ajaran), dan telah meninggalkan banyak ajaran-ajaran sebelumnya, kecuali satu lelaki di Moshul. Yaitu Si Fulan. Ia masih sama dengan ajaranku. Ke sanalah!”

Ketika ia meninggal dan dikubur, Salman pun menemui lelaki yang dimaksud.
“Wahai Fulan, sesungguhnya Si Fulan telah berwasiat keapdaku saat akan meninggal, untuk menjumpaimu dan memberitahuku, bahwa engkau berada di atas ajarannya,” kata Salman.

Lelaki itu menjawab: “Hiduplah bersamaku”.

Selanjutnya, Salman hidup bersamanya. Lelaki ini adalah sosok yang baik. Namun, tidak berapa lama, ia pun meninggal. Ketika kematian akan mendatanginya, Salman memohon kepadanya:

“Wahai fulan, sesungguhnya Fulan dulu berpesan kepadaku untuk menemuimu dan memerintahkanku untuk menjumpaimu. Sekarang telah datang (keputusan) dari Allah, seperti yang engkau saksikan. Kepada siapakah engkau berwasiat bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?

Ia menjawab,”Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui ada seseorang yang berada di atas kami, kecuali seorang lelaki di daerah Nashibin, yaitu Fulan. Temuilah ia!”

Ketika lelaki ini meninggal dan telah dikuburkan, Salman melaksanakan wasiat itu. Setelah berhasil menjumpai lelaki yang dimaksud, Salman pun menceritakan tentang dirinya dan wasiat yang disampaikan oleh pendeta sebelumnya.
Laki-laki menjawab: “Hiduplah bersamaku!”

Sosok laki-laki ini pun sama dengan dua kawannya. Dan tidak berapa lama kemudian, kematian mendatanginya. Ketika ia sedang sakaratul maut, Salman berkata kepadanya: “Wahai fulan, sesungguhnya Fulan (pendeta pertama), berpesan kepadaku untuk menjumpainya Fulan (pendeta kedua). Lalu ia berpesan kepadaku untuk menemuimu. Kepada siapa engkau berwasiat untukku? Apa yang engkau perintahkan?”

Ia menjawab: “Wahai anakku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seseorang yang tetap berada di atas ajaran kami yang aku perintahkan engkau menemuinya, kecuali seseorang di daerah ‘Amuriyyah. Ia masih sama dengan ajaran kami. Jika engkau mau, datangilah, sesungguhnya ia masih berada di atas ajaran kami!”

Usai penguburan, Salman pun pergi untuk menjumpai pendeta di ‘Amuriyah dan menyampaikan kepadanya tentang dirinya. Pendeta itu pun berkata: “Menetaplah bersamaku!”

Salman hidup bersama dengan insan yang selaras dengan petunjuk dan tindak-tanduk kawan-kawannya. Ia pun dapat bekerja, sampai memiliki sapi-sapi dan kambing. Hingga kemudian datang juga keputusan Allah, yaitu kematian mendatangi pendeta ini. Ketika si pendeta mengahadapi sakaratul maut, Salman berkata kepadanya:

“Dulu aku bersama Fulan, kemudian ia berwasiat kepadaku untuk menjumpai Fulan. Dan lantas ia berpesan kepadaku untuk menemui Fulan. Dan selanjutnya berwasiat untuk mendatangimu. Kepada siapakah engkau berwasiat bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Dia menjawab,”Wahai anakku. Aku tidak mengetahui ada orang yang masih berada di atas ajaran kami yang aku memerintahkan kepadamu untuk menjumpainya. Akan tetapi, telah datang kepadamu masa nabi (yang baru). Ia diutus di atas agama Ibrahim, bangkit di tanah Arab, melakukan hijrah ke tempat antara dua bukit batu yang pernah terbakar. Di sana tumbuh pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda-tanda yang tidak tersembunyi; mau makan hasil hadiah, tidak makan sedekahDI ANTARA DUA PUNDAKNYA TERDAPAT TANDA KENABIAN. Jika engkau bisa pergi ke negeri itu, lakukanlah!”

Di ‘Amuriyah, cukup lama Salman menghabiskan waktu di sana, hingga datanglah rombongan pedagang dari Bani Kalb, dan Salman pun berkata kepada mereka: “Maukah kalian membawaku ke Negeri Arab dan aku akan memberi kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?”

Mereka menjawab,”Baiklah!”

Salman memberikan itu semua kepada mereka dengan imbalan tumpangan sampai ke tanah Arab. Akan tetapi, mereka berbuat kenistaan kepadanya, dengan menjual dirinya kepada seorang lelaki Yahudi, layaknya seorang budak belian. Maka, Salman pun tinggal bersama lelaki Yahudi itu. Dan ternyata, Salman menyaksikan adanya pepohonan kurma di situ. Dia pun berharap, inilah tempat yang digambarkan kawannya (pendeta), tetapi ia belum merasa yakin.

Hingga suatu saat, datanglah kemenakan lelaki Yahudi itu dari Madinah. Yaitu dari Bani Quraizhah. Dia membeli Salman dari pamannya dan membawanya ke Madinah. Di kota Madinah ini, Salman menemukan kesesuaian dengan yang digambarkan pendeta terakhir yang ia jumpai. Salman akhirnya menghabiskan waktunya sebagai budak dengan majikan yang baru.

Berita tentang hijrah Nabi yang dibangkitkan di tanah Arab ke Madinah sudah tersiar. Saat pertama kali mendengar berita itu, Salman sedang berada di atas pohon kurma milik majikannya. Sedangkan majikannya sedang duduk.

Tiba-tiba kemenakan sang majikan ini datang dan berdiri di hadapannya, sambil berkata: “Semoga Allah memerangi Bani Qailah. Demi Allah, mereka sekarang berkumpul di Quba, mengelilingi seorang lelaki yang datang dari Mekkah hari ini, yang mengaku dirinya seorang Nabi”.

Ketika Salman mendengarnya, seluruh tubuhnya gemetar, sampai mengira hampir jatuh menimpa majikan yang berada di bawahnya. Lalu Salman turun dari pohon kurma, dan bertanya kepada kemenakan si majikan: “Apa yang engkau katakan? Apa yang engkau katakan?”

Sang majikan marah dan menampar pipinya dengan pukulan yang sangat keras, lantas berkata,”Apa urusanmu dengannya? Teruslah bekerja!”

Salman menjawab,”Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui ucapannya saja.”

Sebelumnya, Salman telah mempunyai sesuatu (kurma) yang telah ia kumpulkan. Saat sore harinya, ia pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang sedang berada di Quba.

Kata Salman,”Telah sampai kepadaku berita, kalau engkau orang yang baik, (datang) bersama para sahabatmu yang asing lagi memerlukan bantuan. Ini ada sesuatu untuk sedekah. Aku melihat kalian sangat berhak daripada orang lain,” maka aku pun mendekatkan (sedekah itu) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Rasulullah berkata kepada para sahabat: “Makanlah,” tetapi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menahan tangannya dan tidak mau makan.

Salman berkata dalam hati: “Ini tanda pertama”.

Pada kesempatan berikutnya, Salman mengumpulkan sesuatu dan Rasulullah telah tinggal di Madinah. Salman berkata,”Aku melihatmu tidak mau makan sedekah. Ini adalah hadiah, aku ingin memuliakan dirimu dengannya,” maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memakannya, dan menyuruh para sahabat ikut makan bersama beliau.

Dalam hati, Salman berkata: “Ini tanda kedua”.

Berikutnya, Salman mendatangi Rasulullah ketika berada di Baqi Gharqad, yaitu ketika sedang melayat jenazah salah seorang sahabatnya. Beliau mengenakan dua kain, duduk di antara para sahabat.

Maka, Salman datang dan melontarkan salam kepada beliau. Setelah itu, ia berputar ke belakang untuk melihat punggung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , untuk memastikan tanda kenabian yang disebutkan oleh pendeta. Ketika Rasulullah menyadari keingintahuan Salman, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melepaskan kain atasnya dari punggung, dan Salman menyaksikan tanda kenabian tersebut, sebagaimana ia mengenalnya dari cerita yang pernah ia dengar.

Kemudian, Salman segera mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , menciumi tanda itu dan menangis. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Salman: “Kemarilah,” maka aku ke depan beliau, dan aku bercerita kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . .


Tejadi kesamaan yang mengagumkan dari kisah Pendeta Buhaira dan Kisah Salman Al-Farisi.

Pendeta Buhaira:

“When you appeared from the direction of ‘Aqabah, all stones and trees prostrated themselves, which they never do except for a Prophet. I can recognize him also by the  SEAL OF PROPHETHOOD WHICH IS BELOW HIS SHOULDER , like an apple. We have got to learn this from our books.”

Pendeta guru dari Salman Al-Farisi berwasiat:

Dia menjawab,”Wahai anakku. Aku tidak mengetahui ada orang yang masih berada di atas ajaran kami yang aku memerintahkan kepadamu untuk menjumpainya. Akan tetapi, telah datang kepadamu masa nabi (yang baru). Ia diutus di atas agama Ibrahim, bangkit di tanah Arab, melakukan hijrah ke tempat antara dua bukit batu yang pernah terbakar. Di sana tumbuh pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda-tanda yang tidak tersembunyi; mau makan hasil hadiah, tidak makan sedekahDI ANTARA DUA PUNDAKNYA TERDAPAT TANDA KENABIAN. Jika engkau bisa pergi ke negeri itu, lakukanlah!”

Inilah kesaksian para sahabat Nabi Muhammad SAW tentang TANDA KENABIAN NABI SAW (SEAL OF PROPHETHOOD).

http://www.inter-islam.org/hadeeth/st2.htm

Jaabir bin Samurah (Radhiallahu Anhu reports that: “I saw the Seal of Prophethood of Rasullullah (Sallallahu alaihi wasallam) between his two shoulders, which was like a red tumour (protruding flesh), the size of which was like that of a pigeon’s egg”.

Ebrahim bin Muhammad (Radhiallahu Anhu), who is the granson of Ali (Radhiallahu anhu said: “Whenever Ali (Radhiallahu Anhu) used to discribe the noble attributes of Rasullullah (Sallallahu Alaihi wasallam), he used to mentioned the complete hadith.  He also used to say that the Seal of Prophethood was between his shoulders, and Rasullullah (Sallallahu alaihi wasallam) was the seal of all prophets”.

Abdullah bin Sarjas Radiyallahu ‘Anhu says: “I came to Rasulullah Sallallahu ‘Alayhi Wasallam while there were people sitting in his company. I went around to the back of Rasulullah Sallallahu ‘Alayhi Wasallam (The narrator may have done this physically). Rasulullah Sallallahu ‘Alayhi Wasallam understood what I was trying to do. He removed the sheet (body wrap) from his back. I saw the place of the Seal of Prophethood between his two shoulders. It was like a cluster surrounded by til (moles) which appeared to be like a wart.

Dari kisah salman Al-Farisi, selain TANDA KENABIAN DIANTARA KEDUA PUNDAKNYA, terdapa nubuat lain:

Nabi yang akan datang TIDAK MENERIMA SEDEKAH , TETAPI MENERIMA HADIAH.

Ini cuplikan dari hadith-hadith.

http://e-muamalat.gov.my/e-hadith/nabi-menerima-hadiah-dan-menolak-sedekah

Hadits Muslim 1790

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَلَّامٍ الْجُمَحِيُّ حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنَ مُسْلِمٍ عَنْ مُحَمَّدٍ وَهُوَ ابْنُ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ أَكَلَ مِنْهَا وَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا

Telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Sallam Al Jumahi] telah menceritakan kepada kami [Ar Rabi’ bin Muslim] dari [Muhammad bin Ziyad] dari [Abu Hurairah] bahwasanya; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberi makanan, maka beliau pasti menanyakannya. Bila dikatakan bahwa itu adalah hadiah, maka beliau memakannya, dan bila dikatakan bahwa itu adalah sedekah, maka beliau tidak memakannya.”

Kesimpulan dari Kisah Salman Al-Farisi, Nabi yang akan datang:

  1. Berasal dari AGAMA IBRAHIM.
  2. Dilahirkan di TANAH ARAB
  3. Melakukan HIJRAH
  4. Terdapat TANDA KENABIAN DIANTARA KEDUA BAHUNYA.
  5. Tidak menerima SEDEKAH tapi menerima HADIAH

Semua itu merujuka pada Nabi Muhammad SAW dan semua NUBUAT dari naskah-naskah lama sudah dihapus oleh tangan mereka.

 

Part 6 -Kyai Haji Saifuddin Ibrahim-Kebodohan dan Kebohongannya (perkawinan di sorga, 72 bidadari)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html


Mantan Kiyai Mengatakan:

Kuran menulis di Sorga akan ada perkawinan (S 55:76),


Seorang KIYAI salah menyebutkan ayat. Lupa? Ini surat 55 (Surat Ar-Raĥmān) : 76

مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ

“Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah”

Bagian mana dari kata-kata diatas menggambarkan “PERKAWINAN”?

Pak KIYAI salah lagi.


Mantan Kiyai melanjutkan:

bahkan menurut hadits, para Muslim yang mati karena berjihad akan mendapat 72 bidadari.


 

Pak kiyai hanya meng-copy apa yang para WESTERN sebarkan mengenai 72 virgins. Hadith-hadith mengenai mati syahid mendapatkan 72 bidadari dikenal sebagai alat propaganda Israel terutama menyangkut bom bunuh diri.

Kalau dikatakan kita mati berjihad dalam jalan yang di-ridhoi oleh Islam, kita akan dapatkan janji dari Allah SWT juga apa yang di gambarkan oleh Nabi Muhammad SAW. 72 bidadari hanya sebagian kecil dari hadiah yang akan kita dapatkan untuk berbuar baik di dunia, mematuhi perintah dan meninggalkan laranganNya. So, apa masalahnya? Tidak ada satu dari TIGA agama yang menjelaskan demikian detail tentang Jannah (surga) kecuali Islam dan semua gambaran mengenai itu memotifikasi para Muslim untuk sabar dan berjalan lurus pada jalan kebaikan didunia ini. Terlepas dari anda percaya atau tidak pada ajaran Islam.

Yang menjadi masalah adalah para musuh Islam mengkaitkan hadith 72 bidadari untuk melegalkan jihad dengan bunuh diri. Perbuatan bunuh diri diharamkan, dikutuk Allah SAW dan Rasulnya.

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.” (QS. An-Nisaa’: 29)

[Shahih Bukhari 5778 dan Shahih Muslim 109] “Artinya : Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi tajam maka besi itu diletakkan di tangannya, ditusukkan ke perutnya di neraka jahannam dia kekal di dalamnya.”

Bagaimana mungkin seorang kiyai MURTAD dari Islam semata-mata hanya mendengarkan apa yang MEDIA BARAT sebarkan sebagai propaganda untuk membuat manusia benci terhadap Islam?

Komentar-komentar para Muslim tentang 72 bidadari

72 Virgins for Martyrs: Making Sense of One of the Rewards of Paradise


Wikipedia tentangAlleged “72 virgins”

The idea of 72 virgins in Islam refers to an aspect of paradise. In a Sunni collection by Abu `Isa Muhammad ibn `Isa at-Tirmidhi in his Jami` at-Tirmidhi[52] and also quoted by Ibn Kathir in his Tafsir ibn Kathir of sura 55[53] it is stated:

It was mentioned by Daraj Ibn Abi Hatim, that Abu al-Haytham ‘Adullah Ibn Wahb narrated from Abu Sa’id al-Khudhri, who heard Muhammad saying, ‘The smallest reward for the people of Heaven is an abode where there are eighty thousand servants and seventy-two houri, over which stands a dome decorated with pearls, aquamarine, and ruby, as wide as the distance from al-Jabiyyah to San’a.[54]

However, regarding the above statement Hafiz Salahuddin Yusuf has said: “The narration, which claims that everyone would have seventy-two wives has a weak chain of narrators.”[38]

In the same collection of Sunni hadiths, however, the following is judged strong (hasan sahih):

That the Messenger of Allah said: “There are six things with Allah for the martyr. He is forgiven with the first flow of blood (he suffers), he is shown his place in Paradise, he is protected from punishment in the grave, secured from the greatest terror, the crown of dignity is placed upon his head—and its gems are better than the world and what is in it—he is married to seventy two wives among Al-Huril-‘Ayn of Paradise, and he may intercede for seventy of his close relatives.”[55]

Importantly, some scholars argue that the promise of 72 virgins is a mistranslation from “72 angels”[56] or even from “72 white raisins, of crystal clarity”.[56][57] According to Ibn Warraq referring to The Syro-Aramaic Reading of the Koran, “Luxenberg claims that the context makes it clear that it is food and drink that is being offered, and not unsullied maidens or houris”.[56][58]


 

 

Part 3 -Kyai Haji Saifuddin Ibrahim-Kebodohan dan Kebohongannya (mukjizat Nabi Muhammad SAW)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html

Alasan MURTAD Kyai Haji Saifuddin Ibrahim ke 3.

========================================================================

Surah-surah meneguhkan bahwa Muhammad tidak bisa melakukan satu mujizat pun, tidak seperti nabi-nabi di Alkitab. Surah 6:37; 13:7

========================================================================

Sang mantan KIYAI (GURU BESAR AL-QUR’AN) murtad karena tidak pernah membaca SIRAH NABAWIYAH (riwayat hidup Nabi Muhammad SAW). SIAPAPUN YANG PERNAH MEMBACA SIRAH NABAWIAH, AKAN MENYAKSIKAN BEBERAPA MUKJIZAT YANG BELIAU TUNJUKKAN DIDALAM SEPANJANG HIDUPNYA.

Silahkan click link ini untuk menyaksikan mukjizat-mukjizat Nabi Muhammad SAW beserta beberapa referensinya.


http://id.wikipedia.org/wiki/Mukjizat_Muhammad

Note: Nomor2 didalam tanda kurung adalah nomor rujukan yang bisa ditemukan didalam wbsite yg saya berikan.

Untuk
*Sebelum dan sesudah kelahiran*
*Balita dan kanak-kanak*
*Remaja*
Silahkan anda baca di website atas.

*MUKJIZAT*

*Fisik*
Dapat melihat dengan jelas dalam keadaan gelap.[25]
Wajah Muhammad memancarkan cahaya dikegelapan pada waktu sahur.[26]
Dua Sahabat Muhammad dibimbing oleh dua cahaya, setelah bertemunya.[27]
Peluh yang keluar dari tubuh Muhammad memiliki bau harum,[28] jika Muhammad berjabat tangan dengan seseorang maka aroma harum itu akan membekas selama beberapa hari ditangan orang tersebut.[29]
Tubuh Muhammad memancarkan petir ketika hendak dibunuh oleh Syaibah bin ‘Utsman pada Perang Hunain.
Muhammad yang sanggup menghancurkan batu besar dengan tiga kali pukulan, dikala menjelang Perang Khandaq, padahal pada saat itu Muhammad belum makan selama 3 hari.[30]
Muhammad sanggup merubuhkan seorang pegulat bertubuh tinggi dan kekar, Rukanah al-Mutthalibi bin Abdu Yazid hanya dengan dua kali dorongan saja.[31]
Sela-sela jemari tangannya memancarkan air,[32] kemudian air itu untuk berwudhu 300 orang sahabat hanya dengan semangkuk air.[33][34][35]

*Do’a *
Mendo’akan kedua mantan menantunya (Uthbah dan Uthaibah) dimakan binatang buas, setelah mereka berkata kasar kepada Muhammad.[36]
Mendoakan untuk menumbuhkan gigi salah seorang sahabatnya bernama Sabiqah yang rontok sewaktu perang.
Mendoakan Anas bin Malik dengan banyak harta dan anak.[37]
Mendoakan supaya Kerajaan Kisra hancur, kemudian doa tersebut dikabulkan.[38]
Mendoakan Ibnu Abbas menjadi orang yang faqih dalam agama Islam.[38]

*Kharisma dan kewibawaan*
Tatapan mata membuat Umar bin Al-Khaththab dan Abu Jahm lari terbirit-birit, ketika mereka berencana untuk membunuh Muhammad pada malam hari.[39]
Tatapan mata yang menggetarkan Ghaurats bin Harits, yaitu seorang musuh yang pernah menghunus pedang kearah leher Muhammad.[40]
Allah melumpuhkan Hay bin Akhtab dan para sahabatnya, ketika hendak melemparkan batu yang besar kepada Muhammad.[41]
Menjadikan tangan Abu Jahal kaku.
Jin yang bernama Muhayr bin Habbar membantu dakwah Muhammad, kemudian jin itu diganti namanya oleh Muhammad menjadi Abdullah bin Abhar.

*Menghilang, menidurkan dan mengalahkan musuh*
Menghilang saat akan dibunuh oleh utusan Amr bin at-Thufail dan Ibad bin Qays utusan dari Bani Amr pada tahun 9 Hijriah atau Tahun Utusan.[42]
Menghilang saat akan dilempari batu oleh Ummu Jamil, bibi Muhammad ketika ia duduk di sekitar Ka’bah dengan Abu Bakar.[43]
Menghilang saat akan dibunuh Abu Jahal dimana saat itu ia sedang salat.[44]
Menidurkan 10 pemuda Mekkah yang berencana membunuhnya dengan taburan pasir, kemudian ia berhasil melalui orang-orang yang menunggunya di pintu rumahnya untuk membunuhnya.
Melemparkan segenggam pasir ke arah musuh sehingga mereka dapat dikalahkan pada Perang Hunain[45] dan Perang Badar.[46]

*Fenomena Alam*
Menghentikan gempa yang terjadi di Mekkah[47] dan Madinah,[48] dengan cara menghentakkan kakinya dan memerintahkan bukit supaya tenang.
Menurunkan hujan[49] dan meredakan banjir saat musim kemarau tahun 6 Hijriah di Madinah yang saat itu mengalami musim kemarau.[50]
Berbicara dengan gunung untuk mengeluarkan air bagi Uqa’il bin Abi Thalib yang kehausan.
Menahan matahari tenggelam.[51]
Membelah bulan dua kali untuk membuktikan kenabiannya pada penduduk Mekkah.[52][53]
Bumi menelan seorang Quraisy yang hendak membunuh Muhammad dan Abu Bakar pada saat hijrah.

*Makanan dan minuman*
Paha kambing yang telah diracuni berbicara kepada Muhammad setelah terjadi Perang Khaibar.[54]
Makanan yang di makan oleh Muhammad mengagungkan Nama Allah.[55]
Makanan sedikit yang bisa dimakan sebanyak 800 orang pada Perang Khandaq.[56]
Roti sedikit cukup untuk orang banyak.[57]
Sepotong hati kambing cukup untuk 130 orang.[58]
Makanan yang dimakan tidak berkurang justru bertambah tiga kali lipat.[59]
Menjadikan beras merah sebanyak setengah kwintal yang diberikan kepada orang Badui Arab tetap utuh tidak berkurang selama berhari-hari.[60]
Ikan al-anbar menjadi hidangan bagi 300 pasukan Muhammad.[61]
Menjadikan minyak samin Ummu Malik tetap utuh tidak berkurang walau telah diberikan kepada Muhammad.[62]
Wadah yang selalu penuh dengan air, walau sudah dituangkan hingga habis.[63]
Mengeluarkan air dari sumur yang ada di tengah gurun pasir, ketika Khalid bin walid pada saat itu masih menjadi musuhnya.[64]
Mengeluarkan mata air baru untuk pamannya Abu Thalib yang sedang kehausan.[65]
Mengeluarkan air yang banyak dari bejana milik seorang wanita penunggang unta.[66]
Semangkuk susu yang bisa dibagi-bagikan kepada beberapa orang-orang Shuffah, Abu Hurayrah dan Muhammad.[67]
Susu dan kencing unta bisa menyembuhkan penyakit orang Urainah.[68]

*Bayi, hewan, tumbuhan dan benda mati*
Seorang bayi berumur satu hari bersaksi atas kerasulan Muhammad.[69]
Bayi berumur 2 tahun memberi salam kepada Muhammad.[70]
Persaksian seekor srigala[71] dan dhab (sejenis biawak pasir)[72][73] terhadap kerasulan Muhammad.
Seekor kijang berbicara kepada Muhammad.[74]
Berbicara dengan beberapa ekor unta.[75][76][77]
Unta besar yang melindungi Muhammad dari kejahatan Abu Jahal.[78]
Seekor burung mengadu kepada Muhammad tentang kehilangan anaknya.[79]
Seekor anjing yang membunuh salah satu petinggi kerajaan Mongol karena telah mencela Muhammad.[80]
Pohon kurma dapat berbuah dengan seketika.[81]
Batang pohon kurma meratap kepada Muhammad.[82][83][84]
Sebuah tandan kurma yang bercahaya diberikan kepada Qatadah bin Nu’man sebagai obor penerang jalannya pulang.[85]
Pohon menjadi saksi dan dibuat berbicara kepada Muhammad dan orang dusun (Arab Badui).[86][87]
Memerintahkan pohon untuk menjadi penghalang ketika Muhammad hendak buang hajat pada suatu perjalanan.[88]
Batang kayu yang kering menjadi hijau kembali ditangannya.
Permadani yang besaksi atas kerasulan Muhammad atas permintaan Malik bin as-Sayf.[89]
Mimbar menangis setelah mendengar bacaan ayat-ayat Allah.[90]
Batu,[91] pohon dan gunung[92] memberi salam kepada Muhammad.[93]
Batu kerikil bertasbih ditelapak tangan Muhammad.[94]
Memanggil batu agar menyeberangi sungai dan mengapung, menuju kearah Muhammad dan Ikrimah bin Abu Jahal.[95]
Berhala-berhala runtuh dengan hanya ditunjuk oleh Muhammad.[96]
Memberinya sebatang kayu yang berubah menjadi pedang kepada Ukasyah bin Mihsan, ketika pedangnya telah patah dalam sebuah pertempuran.
Berbicara dengan gilingan tepung Fatimah yang takut dijadikan batu-batu neraka.
mengubah emas hadiah raja Habib bin Malik menjadi pasir di Gunung Abi Qubaisy.
Memerintahkan gilingan tepung untuk berputar dengan sendirinya.[97]
Secara tiba-tiba ada sarang laba-laba, dua ekor burung yang sedang mengeramkan telur dan cabang-cabang pohon yang terkulai menutupi mulut gua di Gunung Thur, sewaktu Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran orang Quraisy.[98]

*Menyembuhkan*
Menyembuhkan betis Ibnu al-Hakam yang terputus pada Perang Badar, kemudian Muhammad meniupnya, lalu sembuh seketika tanpa merasakan sakit sedikit pun.
Menyembuhkan mata Qatadah tergantung di pipinya yang terluka pada Perang Uhud, kemudian oleh Muhammad mata tersebut dimasukkan kembali dan menjadi lebih indah dari sebelumnya.[99][100]
Menyembuhkan daya ingat Abu Hurayrah yang pelupa.[101]
Menyembuhkan kaki Abdullah bin Atik yang patah sehingga pulih seperti sedia kala.[102]
Menyembuhkan luka sayatan di betis Salamah bin al-Akwa pada Perang Khaibar.[103]
Menyembuhkan penyakit mata Ali bin Abi Thalib saat pemilihan pembawa bendera pemimpin dalam Perang Khaibar.[104]
Menyembuhkan sakit kepala Ali bin Abi Thalib.[105]
Menyembuhkan luka gigitan ular yang diderita Abu Bakar dengan ludahnya saat bersembunyi di Gua Hira[106] (dalam kisah lain dikatakan Gua Tsur)[107] dari pengejaran penduduk Mekah.
Menyembuhkan luka bakar ditubuh anak kecil yang bernama Muhammad bin Hathib dengan ludahnya.[108]
Menyembuhkan luka bakar Amar bin Yasir yang telah dibakar oleh orang-orang kafir.[109]
Menyembuhkan anak yang bisu sejak lahir, sehingga bisa berbicara.[110][111]
Menyembuhkan mata ayah Fudayk yang putih semua dan buta.[112]
Air seni Muhammad pernah terminum oleh pembantunya yang bernama Ummu Aiman, sehingga menyembuhkan sakit perut pembantunya.[113]
Mengembalikan penglihatan orang yang buta.[114]
Menyembuhkan penyakit lumpuh seorang anak.[115]
Mengobati penyakit gila seorang anak.[116]
Menyembuhkan tangan wanita yang lumpuh dengan tongkatnya.
Menyembuhkan penyakit kusta istri Mu’adz bin Afra’ dengan tongkatnya.[117]
Menyembuhkan penyakit kusta Sa’id bin Abyadh bin Jamal dibagian wajahnya.[118]
Menyambung tangan orang Badui yang putus setelah dipotong oleh dirinya sendiri sehabis menampar Muhammad.
Menyembuhkan putri raja yg cacat tanpa tangan & kaki.
Mengeluarkan susu dan menyembuhkan penyakit pada domba milik Ummu Ma’bad.[119][120]
Mengusapkan wajah Qatadah bin Milhan yang telah berusia lanjut, sehingga wajahnya tetap terlihat muda dan cerah.[121]
Menyembuhkan sakit perut Ubaidah bin Rifa’ah.[122]

*Menghidupkan orang mati*
Menghidupkan anak perempuan yang telah mati lama dikuburannya.[123]

*Hal ghaib dan ru’yah*
Mendapatkan bantuan dari Malaikat Jundallah ketika dalam Perang Badar.[124]
Mengetahui kejadian yang tidak dilihat olehnya.[125]
Mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, yang akan terjadi.
Sanggup melihat dibalik punggungnya seperti melihat dari depan.[126][127]
Melihat dan mendengar apa yang ada dilangit dan bumi.[128]
Mengetahui isi hati sahabat dan lawannya.
Mengetahui yang terjadi di dalam kubur.[129]
Mengetahui ada seorang Yahudi yang sedang disiksa dalam kuburnya.[130]
Meramalkan seorang istrinya ada yang akan menunggangi unta merah, dan disekitarnya ada banyak anjing yang menggonggong dan orang tewas. Hal itu terbukti pada Aisyah pada saat Perang Jamal di wilayah Hawwab yang mengalami kejadian yang diramalkan Muhammad.[131]
Meramalkan istrinya yang paling rajin bersedekah akan meninggal tidak lama setelahnya dan terbukti dengan meninggalnya Zainab yang dikenal rajin bersedekah tidak lama setelah kematian Muhammad.[132]
Meramalkan Abdullah bin Abbas akan menjadi “bapak para khalifah” yang terbukti pada keturunah Abdullah bin Abbas yang menjadi raja-raja kekhalifahan Abbasiyah selama 500 tahun.[131]
Meramalkan umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan.[133]
Mengetahui nasib cucu-cucunya dikemudian hari, seperti nasib Hasan yang akan bermusuhan dengan Mu’awiyyah bin Abu Sufyan beserta keturunannya. Nasib Husain yang akan dibantai tentara Yazid, anak lelaki Mu’awiyyah disebuah Padang Karbala.[134]
Mengetahui akan adanya Piagam Pemboikotan oleh tokoh-tokoh Quraisy.
Jarak pandang tembus hingga melihat Masjid al-Aqsha dari jarak kejauhan.[135]

*Mukjizat terbesar*
Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu Mi’raj dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha, untuk menerima perintah salat dalam waktu tidak sampai satu malam.
Menerima firman Tuhan melalui wahyu yang kemudian dijadikan satu bundel dengan nama Al-Qur’an

Kalau anda memabaca biografi2 Nabi Muhammad, anda akan menemukan mukjizat2 yang diceritakan diatas. Selebihnya dapat ditemukan didalam Hadis2.


Buku ini bernama ” 300 Mukjizat Muhammad Saw”memuat 300 MUKJIZAT Nabi Muhammad SAW berdasarkan hadith-hadith yang terpercaya.

Mari kita berfikir. PATUTKAH SEORANG KIYAI DAN GURU BESAR AL-QUR’AN TIDAK TAHU SAMA SEKALI TENTANG MUKJIZAT NABI MUHAMMAD SAW?

Part 2 -Kyai Haji Saifuddin Ibrahim-Kebodohan dan Kebohongannya (fitnah tentang menyusui orang dewasa)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html

Alasan MURTAD Kyai Haji Saifuddin Ibrahim ke 2.

==========================================================================Hadits dalam Bab ”Menyusui Orang Dewasa” memerintahkan isteri untuk menyusui pria-pria yang bukan suaminya. Saifuddin berkata, ”Adil Imam dari Mesir masuk Kristen karena perintah Muhammad tersebut.” Lebih lanjut  ia menulis fatwa ini berlaku di abad 21: ”Arab Saudi, Mesir, Maroko telah memfatwakan mewajibakan seorang ibu rumah tangga untuk menyusui para pria pembantu: tukang masak, kebun, sopir menaruh mereka sederat dengan suaminya.” [4]

==========================================================================

Fitnah yang disebarkan para missionaris Kristen tentang “Menyusui orang dewasa” telah disebar luaskan untuk memperlemah iman para Muslim. Masalah ini adalah satu dari beberapa senjata yang mereka ajukan untuk selain membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi palsu, juga Islam adalah agama yang menggelikan.

Hal lain yang mengganjal  dari seorang mantan kiyai apa lagi GURU BESAR AL_QUR’AN, tidak menyebutkan hadith secara terang dengan perawi hadith dan buku dimana hal yang bersangkutan ditemukan. Setidaknya dia menggali dan membuat perbandingan dari beberapa hadith yang bersangkutan lalu berkomunikasi dengan para ustadz, ulama atau Muslim Scholars lainnya.

================

HADITH MENYUSUI INI BEKENAAN TENTANG “MAHRAM”.

Apa itu MAHRAM:

Mahram (Arab: محرم) adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam.[1] Muslim Asia Tenggara sering salah dalam menggunakan istilah mahram ini dengan kata muhrim, sebenarnya kata muhrim memiliki arti yang lain. Dalam bahasa arab, kata muhrim (muhrimun) artinya orang yang berihram dalam ibadah haji sebelum bertahallul. Sedangkan kata mahram (mahramun) artinya orang-orang yang merupakan lawan jenis kita, namun haram (tidak boleh) kita nikahi sementara atau selamanya. Namun kita boleh bepergian dengannya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, boleh berjabat tangan, dan seterusnya.

https://id.wikipedia.org/wiki/Mahram

————————————–

PENJELASAN 1 : MENJAWAB FITNAH “HADIST TENTANG MENYUSUI ORANG DEWASA?”

Tudingan bahwa Nabi pernah menyuruh Sahlah binti Suhaili, istri Hudzaifah, yakni Salim, padahal ia sudah dewasa merupakan ajaran yg tercela. Dan Aisyah juga berpendapat bahwa hal ini bersifat umum (seperti yg disebutkan dalam Kitab Sunan Abu Dawud). Buktinya ia selalu menyuruh kemenakan-kemenaka perempuannya untuk menyusui siapapun yg yg ingin bertemu dengannya, apabila orang itu sudah dewasa maka harus disusui sebanyak lima kali.

kisahnya adalah sebagai berikut, Abu Hudzaifah pernah memiliki hamba sahaya yang bernama Salim, lalu Abu Hudzaifah memberi kehormatan kepada Salim dengan menjadikannya sebagai anak angkat. Kemudian setelah Salim tumbuh menjadi orang dewasa, ia mengalami kesulitan berinteraksi kepada dengan Sahlah, karena Salim bukanlah mahram Sahlah, mereka tidak bebas bertemu walaupun satu atap (Sahlah harus selalu mengenakan jilbabnyaI, dan Abu Hudzaifah (suami Sahla) pun merasa kurang senang dengan keadaan tersebut. Akhirnya Sahlah menghadap Nabi, dan meminta petunjuk dari beliau, lalu Nabi berkata:”Susuilah ia, maka kamu akan menjadi mahramnya.

Tentang pendapat Aisyah, bahwa hal itu bersifat umum dengan bukti bahwa ia selalu menyuruh kemenakan-kemenaka perempuannya untuk menyusui siapapun yg yg ingin bertemu dengannya, apabila orang itu sudah dewasa maka harus disusui sebanyak lima kali, jumhur ulama berpendapat bahwa kisah Salim itu hanya dikhususkan bagi dirinya saja, tidak untuk orang lain, dan kisah tersebut tidak dapat dijadikan dalil untuk memperbolehkan penyusuan orang dewasa.

Al-Hafizh Ibnu Abdi Al-Barr menegaskan: Abu Malikah yang tidak menyampaikan hadist ini selama satu tahun memberi tanda bahwa hadist ini telah lama di tinggalkan dan tidak pernah di kerjakan lagi. Jumhur ulama memandang bahwa hadist ini tidak untuk secara umum, mereka menganggap hadist ini hanya dikhususkan bagi Salim saja.(Kitab Syarhu az-Zarqani ala Al-Muwathatha 3/292).

Setelah menyevbutkan hadist ini, Al-Hafizh ad-Dharimi juga mengatakan dalam kitab sunannya:”Hadist ini dikhususkan bagi Salim seorang.”

Pendapat yang sama juga disebutkan pada riwayat-riwayat lainnya. Salah satunya adalah riwayat yang disebutkan oleh Imam Muslim, dari Ummu Salamah, ia berkata:”Seluruh istri-istri nabi menolak untuk menggunakan hukum penyusuan bagi kaum pria yang ingin bertemu dengan mereka. Lalu mereka berkata kepada Aisyah: Demi Allah, kami hanya melihat hukum itu sebagai keringanan dari Nabi yang khusus diberikan kepada Salim. Karena itulah kami tidak ingin seorangpun bertemu dan melihat kami dengan menggunakan hukum itu.”

Dengan demikian maka yang dilakukan oleh Aisyah (jika memang atsar itu shahih) tidak lain adalah ijtihad (pendapatnya pribadi) saja, sedangkan yang dipahami dan dilakukan oleh para sahabat dan istri-istri Nabi lainnya bertolak belakang dengan Ijtihad tersebut.

Para ulama memandang bahwa makna yang nyata dari hukum keringanan penyusuan pada Salim adalah keringanan untuk dirinya seorang, tidak untuk orang lain. sedangkan makna dari riwayat Aisyah kemungkinan besar adalah: apabila Aisyah memiiki firasat baik pada seorang bayi dan ia ingin agar anak itu nanti dapat bebas bertemu dengannya setelah dewasa nanti, maka ia menyuruh kemenakan-kemenakan perempuannya untuk menyusui mereka selagi mereka masih bayi, sehingga setelah mereka dewasa nanti mereka dapat bebas bertemu dengan Aisyah (sebagai bibi dari ibu susu mereka).

Pasalnya pendapat inilah yang dipilih oleh sebagian besar para istri Nabi, sebagian besar para sahabat, dan jumhur ulama. Makna itulah yang dapat dipahami dari dalil yang nyata yang bersebelahan dengan makna hadist Sahlah binti Suhail. Kalau seandainya hukum menyusui itu mutlak untuk semua orang (tidak hanya untuk para bayi yang kurang dari 2 tahun), maka hukum itu tentu akan banyak diketahui dan diikuti oleh para sahabat dan ulama salaf, mereka juga meriwayatkan pendapat yg sama dari berbagai sanad.

Para musuh Islam memahami sabda Nabi “susuilah,” dengan pemahaman yang keliru. Mereka mengira bahwa penyusuan pasti dilakukan dengan menyentuh payudara, higga muncullah pemahaman seperti itu. Penjelasan terbaik untuk masalah ini diutarakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Syarh Sahih Muslim (10/13):Al-Qadhi mengatakan:”Sepertinya Sahlah mengeluarkan air susunya terlebih dahulu, barulah setelah itu diminum oleh Salim, sehingga Salim tidak perlu menyentuh apapun dan kulit tubuh mereka tidak ada yang bersentuhan, karena tidak halal seorang laki-laki melihat organ susu seorang wanita yang bukan mahramnya atupun menyentuhnya.”

Abu Umar mengatakan: Metode menyusui seorang pria dewasa adalah dikeluarkan air susu ibunya terlebih dahulu, kemudian ia meminumnya dari tempat lain. Dan tidak satupun ulama yang memperbolehkan pria dewasa disusui secara langsung oleh ibu susuannya. Dan pendapat inilah yang diunggulkan oleh Al-Qadhi dan Imam An-Nawawi. (Kitab Syarhu Az-Zarqani 3/316). Dalam Kitab Tabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’ad menyebutkan sebuah riwayat, dari Muhammad bin Abdillah bin Az-Zuhri, dari ayahnya, ia berkata: (Ketika Sahlah ingin memberikan air susunya kepada Salim) Sahlah menuangkan air susunya pada sebuah wadah, lalu Salim meminum air susu tersebut dari tempatnya setiap hari. Setelah lima hari Salim meminum susu tersebut dari tempatnya setiap hari. Setelah lima hari Salim meminum susu itu maka ia diperbolehkan untuk bertemu Sahlah walaupun Sahlah tanpa menggunakan tutup kepala (jilbab), sebagai keringanan yang diberikan Nabi kepada Sahlah. (Kitab Thabaqat Al-Kubra 8/271 dan Kitab Al-Ishabah karya Ibnu Hajar 7/716).

Kemudian juga, hadist tentang Sahlah sama sekali tidak memuat kata-kata menyentuh atau secara langsung, oleh karenanya penuding tidak berhak untuk mnegatakan bahwa yang mereka lakukan saat itu adalah perbuatan dosa. Apakah jika kita meminum susu sapi atau susu kambing maka kita harus meminumnya secara langsung atau menyentuh sapi terlebih dahulu? Kemudian juga, salah satu alasan Sahlah mengadu kepada Nabi berkaitan dengan kecemburuan Abu Hudzaifah terhadap Salim yang masuk kedalam rumahnya, padahal Salim bukanlah mahram dari Sahlah. Hanya dengan masuknya Salim ke dalam rumahnya saja Abu Hudzaifah sudah cemburu, maka bagimana mungkin ia memperbolehkan Sahlah untuk menyusui Salim secara langsung?

Jangankan menyentuh seperti itu, hanya bersalaman saja Nabi sudah mengharamkannya, karena beliau pernah bersabda:”Tertusuknya kepala kamu dengan paku akan lebih baik bagi kamu daripada kamu menyentuh wanita yang tidak dihalalkan bagimu (bukan mahram).”(Kitab Shahih Al-Jami’:5045). dan Nabi juga pernah bersabda:“Sesungguhnya aku tidak (pernah dan tidak akan pernah) bersalaman dengan kaum wanita (asing yang bukan mahramku).”(Kitab Shahih Jami’:5213)

Bagaimana mungkin nabi memperbolehkan Salim untuk menyentuh bagian tubuh Sahlah tatkala beliau memerintahkan Sahlah menyusui Salim, padahal beliau megharamkan kaum pria untuk menyentuh tangan wanita yang bukan mahramnya?

Lalu apabila seorang anak kecil yang minum air susu ibu tanpa mnyentuh mengisapnya dari payudara ibunya secara langsung, jumhur ulama berpendapat anak itu dikategorikan sebagai anak susuan dan harus mengikuti hukum-hukum penyusuan. Selama seorang anak kecil yang meminum susu tanpa mengisapnya dari payudara secara langsung tetap dikategorikan sebagai anak susuan, maka seharusnya orang dewasa yang melakukannya seperti itu lebih layak untuk ditetapkan hukum-hukum penyusuan baginya.

Seorang ulama ilmu Nahwu, Ibnu Qutaibah Ad-Dinuri pernah mengomentari hadist tersebut. Ia mengatakan: nabi hendak memahramkan Salim dan Sahlah, beliau juga ingin mempersatukan mereka dalam satu rumah tanpa ada rasa canggung diantara mereka, dan beliau juga mau menghilangkan rasa cemburu pada diri Abu Hudzaifah sekaligus merasa senang dengan keberadaan Salim dirumahnya. Nabi berkata:”Susuilah ia” namun Nabi tidak mengatakan :Letakkan payudaramu dimulutnya.” Beliau tidak mengatakan hal itu karena yang beliau inginkan adalah:”Keluarkanlah air susumu pada suatu tempat, lalu berikanlah kepadanya agar ia dapat meminumnya.: Inilah makna yang sebenarnya, tidak ada dan tidak boleh dimaknai dengan interpretasi yang lain. Pasalnya Salim tidak di perbolehkan untuk melihat bagian tubuh Sahlah sebelum ditetapkan baginya hukum penyusuan, maka bagaimana mungkin ia di perbolehkan untuk berbuat sesuatu yang diharamkan baginya (meminumnya secara langsung), atau berbuat sesuatu yg tidak dapat dijamin syahwatnya akan terjaga? (Kitab Ta’wil Mukhtalaf Al-Hadist karya Ibnu Qutaibah hal.308-309).

Keputusan Nabi itu adalah rahmat yang diberikan beliau kepada Sahlah dan anak angkatnya, karena di antara mereka pasti ada kasih sayang antara ibu dan anak. Salim di asuh Sahlah sejak kecil, maka tentu Sahlah sudah menganggap Salim sebagai anaknya sendiri, dan Salimsudah menganggap Sahlah sebagai ibunya sendiri. Sulit bagi Salim ataupun bagi Sahlah untuk dipisahkan. Apalagi usia sahlah semakin lama semakin menua, tentu ia dan suaminya membtuhkan anak muda seperti Salim untuk membantu mereka.

————————————-
Sumber: http://bentengmuslimmenjawabfitnah.blogspot.com/
—————————————-
MAKA JELAS, MURTAD MANTAN KIYAI SAIFUDDIN BUKAN BERDASARKAN RESEARCH YANG DETAIL MENGENAI HADITH YANG BERSANGKUTAN.
—————————————–
PENJELASAN 2 :HADIST RIWAYAT MALIK DIATAS TIDAK DAPAT DIJADIKAN DASAR HUKUM TENTANG PENYUSUAN PRIA DEWASA

KARENA MAKNANYA BERTENTANGAN DENGAN DALIL HADIST MAUPUN AYAT-AYAT ALQURAN BERIKUT DIBAWAH INI

HADIST NABI BERIKUT MENEGASKAN, BAHWA PERSUSUAN TIDAK MENJADIKAN MAHRAM KECUALI BILA DILAKUKAN PADA BAYI DI BAWAH 2 TAHUN (YAITU USIA SAPIH, 2 TAHUN)

سنن الترمذي ١٠٧٢: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْمُنْذِرِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُحَرِّمُ مِنْ الرِّضَاعَةِ إِلَّا مَا فَتَقَ الْأَمْعَاءَ فِي الثَّدْيِ وَكَانَ قَبْلَ الْفِطَامِ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ أَنَّ الرَّضَاعَةَ لَا تُحَرِّمُ إِلَّا مَا كَانَ دُونَ الْحَوْلَيْنِ وَمَا كَانَ بَعْدَ الْحَوْلَيْنِ الْكَامِلَيْنِ فَإِنَّهُ لَا يُحَرِّمُ شَيْئًا وَفَاطِمَةُ بِنْتُ الْمُنْذِرِ بْنِ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ وَهِيَ امْرَأَةُ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ

Sunan Tirmidzi 1072:

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari Fathimah bin Al Mundzir dari Umu Salamah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Persusuan tidak bisa menjadikan mahram, kecuali (susuan) yang mengenyangkan dan terjadi sebelum disapih.” Abu Isa berkata; “Ini merupakan hadits hasan sahih dan diamalkan para ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang lainnya; bahwa persusuan tidak menjadikan mahram kecuali pada bayi di bawah dua tahun. Jika telah berlangsung waktu dua tahun, tidak menjadikan mahram. Fathimah binti Al Mundzir bin Zubair bin ‘Awwam adalah istri Hisyam bin ‘Urwah.”

—–

HADIST RIWAYAT TIRMIDZI DIATAS JUGA DIPERKUAT DENGAN AYAT-AYAT ALQURAN DIBAWAH INI, TENTANG BATAS PENYUSUAN DAN USIA DISAPIH

ALQURAN MENEGASKAN, BAHWA BATAS PENYAPIHAN UNTUK BAYI YANG MENYUSU ADALAH 2 TAHUN (BATAS USIA PENYAPIHAN)

QS 2:233

۞ وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّا آتَيْتُم بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ [٢:٢٣٣]

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
﴿٢٣٣﴾

QS 31:14

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ [٣١:١٤]

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
﴿١٤﴾

MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMAN NYA

—–
LALU BAGAIMANA MENYIKAPI HADIST SAHIH RIWAYAT IMAM MALIK DIATAS ?

Hadist riwayat Imam Malik diatas, yang mengisahkan tentang Ummul Mukminin yang menyusui orang dewasa, jangankan saat ini, bahkan dijamannya sendiri, bahkan disebutkan di dalam hadist yang sama, SUDAH DITOLAK OLEH ISTRI-ISTRI NABI LAINNYA.

Sehingga hadist tersebut bahkan menjadi sangat lemah untuk dipercaya dan dijadikan sebagai dasar hukum penyusuan orang dewasa, apalagi setelah lalu terbuti bertentangan dengan hadis sahih lainnya, yaitu hadist riwayat Tirmidzi, bahkan bertentangan pula dengan ayat-ayat AlQuran tentang batas usia penyusuan. (QS 2;233, QS 31:14)

————————————-
Sumber: http://bentengmuslimmenjawabfitnah.blogspot.com/
—————————————-

Are Muslims allowed to lie for Islamic causes? Taqiyya explained

 

Quran and Prayer Beads

By Abu Amina Elias for FaithinAllah.org

Question:

Taqiyya is an Islamic doctrine that allows Muslims to lie to non-Muslims and the Prophet said “War is deceit.” So can we trust what any Muslim says?

Answer:

In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful

According to Lane’s Lexicon, Taqiyya comes from the root word meaning “to be cautious, to guard.” When a Muslim’s life is being threatened, it is permissible to deny Allah and His Messenger if that will save his life. Such permission was necessary at the time when Muslims were being persecuted and killed simply for being Muslim.

Allah said:

مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Whoever disbelieves in Allah after his belief – except for one who is forced to renounce his religion while his heart is secure in faith – but those who willingly open their hearts to unbelief, upon them is wrath from Allah and for them is a great punishment.

Surah An-Nahl 16:106

Ibn Kathir comments on this verse:

فَهُوَ اسْتِثْنَاءٌ مِمَّنْ كَفَرَ بِلِسَانِهِ وَوَافَقَ الْمُشْرِكِينَ بِلَفْظِهِ مُكْرَهًا لِمَا نَالَهُ مِنْ ضَرْبٍ وَأَذًى وَقَلْبُهُ يَأْبَى مَا يَقُولُ وَهُوَ مُطَمْئِنٌ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ

This is an exception in the case of one who utters statements of unbelief and verbally agrees with the idolaters because he is forced to do so by their beatings and abuse to which he is subjected, but his heart refuses to accept what he is saying, while he is in reality at peace with his faith in Allah and His Messenger.

Source: Tafseer Ibn Kathir 16:106

Therefore, it is only in these specific circumstances in which a Muslim faces bodily harm that he or she is allowed to lie. The general rule is that a Muslim should always speak the truth.

Allah said:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَن تَعْدِلُوا ۚ وَإِن تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

O you who have believed, be persistently standing firm in justice, witnesses for Allah, even if it be against yourselves or your parents and relatives. Whether one is rich or poor, Allah is more worthy of both. So follow not your desires, lest you not be just, and if you distort your testimony or refuse to give it, then verily, Allah is aware of what you do.

Surah An-Nisa 4:135

And Allah said:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

O you who believe, fear Allah and speak words of appropriate justice.

Surah Al-Ahzab 33:70

Abdullah ibn Mas’ud reported: The Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, said:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا

Verily, truthfulness leads to righteousness and righteousness leads to Paradise; a man may speak the truth until he is recorded with Allah as truthful. Verily, lying leads to wickedness and wickedness leads to the Hellfire; a man may tell lies until he is recorded with Allah as a liar.

Source: Sahih Muslim 2607, Grade: Sahih

Aisha reported:

مَا كَانَ خُلُقٌ أَبْغَضَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْكَذِبِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُحَدِّثُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْكِذْبَةِ فَمَا يَزَالُ فِي نَفْسِهِ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّهُ قَدْ أَحْدَثَ مِنْهَا تَوْبَةً

There was no behavior more hateful to the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, than lying. A man would lie when narrating something in the presence of the Prophet and he would not be satisfied until he knew that he had repented.

Source: Sunan At-Tirmidhi 1973, Grade: Hasan

As for the Prophet’s statement, “War is deceit,” he said this in the context of a battle in which he intended to misdirect enemy troops.

Abdur Rahman ibn Ka’b reported:

كَانَ إِذَا أَرَادَ غَزْوَةً وَرَّى غَيْرَهَا وَكَانَ يَقُولُ الْحَرْبُ خَدْعَةٌ

When the Prophet intended to go on an expedition, he would pretend to go somewhere else and he would say, “War is deception.”

Source: Sunan Abu Dawud 2637, Grade: Sahih

This is not lying to advance an Islamic cause, rather it is employing classical military tactics used by armies for centuries. Dr. Joseph Caddell, professor of military history at North Carolina State University, acknowledges that warfare has always involved tactics of deception. He writes:

Deception in warfare is probably as old as armed conflict itself. The logic of confusing an adversary is obvious, and the rewards can be realized very quickly.

However, this is only during a declared state of war. In contrast, it is a major sin for a Muslim to act treacherously or deceptively regarding covenants, treaties, and agreements.

Ibn Umar reported: The Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, said:

إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ فَقِيلَ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلاَنِ بْنِ فُلاَنٍ

When Allah gathers together the earlier and later generations on the Day of Resurrection, He will raise a banner for every treacherous person and it will be announced that this is the treachery of so-and-so the son of so-and-so.

Source: Sahih Muslim 1735, Grade: Sahih

This applies to non-Muslims, as the Prophet informed us that he would testify on the Day of Judgment on behalf of any peaceful non-Muslim against any Muslim who oppressed them.

Sufwan ibn Saleem reported: A number of the companions said the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, said:

أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوْ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

If anyone wrongs a person protected by a covenant, violates his rights, burdens him with more work than he is able to do, or takes something from him without his consent, then I will plead for him on the Day of Resurrection.

Source: Sunan Abu Dawud 3052, Grade: Sahih

This even applies when treachery would result in a military advantage for the Muslims, and the companions of the Prophet strictly followed this practice.

Sulaym ibn Amir reported: There was a peace treaty between Muawiyah and the Byzantines. He was marching towards their country and when the covenant came to an end, he would attack them. A man came on a horse, saying, “Allah is Most Great! Allah is Most Great! Let there be faithfulness and not treachery!” When they looked they found that he was Amr ibn Abasah. Muawiyah sent for him and questioned him about that. He said: I heard the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, say:

مَنْ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ قَوْمٍ عَهْدٌ فَلَا يَحُلَّنَّ عَهْدًا وَلَا يَشُدَّنَّهُ حَتَّى يَمْضِيَ أَمَدُهُ أَوْ يَنْبِذَ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ

When one has a covenant with people he must not strengthen or loosen it until its term comes to an end or he brings it to an end in agreement with them.

Source: Sunan At-Tirmidhi 1580, Grade: Sahih

In this example, the companions prevented the Caliph Mu’awiyah from marching his army toward the Romans in an attempt to surprise attack them when the peace treaty expired. Marching for war was considered an act of war that was initiated before the expiration of the treaty. Therefore, Mu’awiyah returned with his armies.

In conclusion, Muslims are only allowed to lie if it is necessary to protect themselves from persecution. The general rule is that a Muslim must always speak the truth even against himself. Moreover, the permission for deception during a state of war is consistent with military tactics used by armies since ancient times unto the present, but deception in violation of peace treaties and covenants is strictly forbidden.

– See more at: http://www.faithinallah.org/are-muslims-allowed-to-lie-taqiyya-explained/#sthash.q3CB8Nzd.dpuf


Source: http://www.faithinallah.org/are-muslims-allowed-to-lie-taqiyya-explained/

 

AL-QUR’AN VERSES AND BUKHARI HADITHS ABOUT SUICIDE (BOMBER)

http://quran.com/4/29
Sahih International
O you who have believed, do not consume one another’s wealth unjustly but only [in lawful] business by mutual consent. And do not kill yourselves [or one another]. Indeed, Allah is to you ever Merciful.

http://quran.com/2/195
Sahih International
And spend in the way of Allah and do not throw [yourselves] with your [own] hands into destruction [by refraining]. And do good; indeed, Allah loves the doers of good.

Sahih Bukhari Volume 008, Book 077, Hadith Number 603.

Category: Sahih Bukhari Book 77. Divine Will (Al-Qadar)
Narated By Abu Huraira : We witnessed along with Allah’s Apostle the Khaibar (campaign). Allah’s Apostle told his companions about a man who claimed to be a Muslim, “THIS MAN IS FROM THE PEOPLE OF THE FIRE.” When the battle started, the man fought very bravely and received a great number of wounds and got crippled. On that, a man from among the companions of the Prophet came and said, “O Allah’s Apostle! Do you know what the man you described as of the people of the Fire has done? He has fought very bravely for Allah’s Cause and he has received many wounds.” The Prophet said, “But he is indeed one of the people of the Fire.” Some of the Muslims were about to have some doubt about that statement. So while the man was in that state, the pain caused by the wounds troubled him so much that he put his hand into his quiver and took out an arrow and committed suicide with it. Off went some men from among the Muslims to Allah’s Apostle and said, “O Allah’s Apostle! Allah has made your statement true. So-and-so has COMMITED SUICIDE.” Allah’s Apostle said, “O Bilal! Get up and announce in public:  NONE WILL ENTER PARADISE BUT A BELIEVER, AND ALLAH MAY SUPPORT THIS RELIGION (ISLAM) WITH A WICKED MAN.”
—————————–
Ini the hadith above, Prophet knew the future of this man. COMMITED SUICIDE WILL NEVER ENTER PARADISE.
—————————–
Sahih Bukhari Volume 002, Book 023, Hadith Number 445.
Category: Sahih Bukhari Book 23. Funerals (Al-Janaa’iz)
Narated By Thabit bin Ad-Dahhak : The Prophet (p.b.u.h) said, “Whoever intentionally swears falsely by a religion other than Islam, then he is what he has said, (e.g. if he says, ‘If such thing is not true then I am a Jew,’ he is really a Jew).AND WHOEVER COMMITS SUICIDE WITH PIECE OF IRON WILL BE PUNISHED WITH THE SAME PIECE OF IRON IN THE HELL FIRE.” Narrated Jundab the Prophet said, “A man was inflicted with wounds and he committed suicide, and so Allah said: AND SO ALLAH SAID: MY SLAVE HAS CAUSED DEATH ON HIMSELF HURRIEDLY, SO I FORBID PARADISE FOR HIM.”
—————————————
The hadith above, you see the Prophet and ALLAH both curse the SUICIDER.
—————————————
Sahih Bukhari Volume 008, Book 076, Hadith Number 500.
Category: Sahih Bukhari Book 76. To Make the Heart Tender (Ar-Riqaq)
Narated By Sa’d bin Sahl As-Sa’idi : The Prophet looked at a man fighting against the pagans and he was one of the most competent persons fighting on behalf of the Muslims. The Prophet said, “Let him who wants to look at a man from the dwellers of the (Hell) Fire, look at this (man).” Another man followed him and kept on following him till he (the fighter) was injured and, seeking to die quickly, he placed the blade tip of his sword between his breasts and leaned over it till it passed through his shoulders (i.e., COMMITTED SUICIDE).” The Prophet added, “A PERSON MAY DO DEEDS THAT SEEM TO THE PEOPLE AS THE DEEDS OF THE PEOPLE OF PARADISE WHILE IN FACT, HE IS FROM THE DWELLERS OF THE (HELL) FIRE: and similarly a person may do deeds that seem to the people as the deeds of the people of the (Hell) Fire while in fact, he is from the dwellers of Paradise. Verily, the (results of) deeds done, depend upon the last actions.”
———————–
The capital leters above is related to suiced bomber. They think they will have PARADISE. But all they’ll get is HELL FIRE.
———————-
Sahih Bukhari Volume 008, Book 078, Hadith Number 647.
Category: Sahih Bukhari Book 78. Oaths and Vows
Narated By Thabit bin Ad-Dahhak : The Prophet said, “Whoever swears by a religion other than Islam, is, as he says; and AND WHOEVER COMMITS SUICIDE WITH SOMETHING, WILL BE PUNISHED WITH THE SAME THING IN THE (HELL) FIRE;  and cursing a believer is like murdering him; and whoever accuses a believer of disbelief, then it is as if he had killed him.”
———————-
More about cursing suicide:
Sahih Bukhari Volume 002, Book 023, Hadith Number 445.
Sahih Bukhari Volume 008, Book 078, Hadith Number 647.
Sahih Bukhari Volume 008, Book 077, Hadith Number 604.
Sahih Bukhari Volume 008, Book 076, Hadith Number 500.