WE DEFEND ISLAM

A topnotch WordPress.com site

Part 7B-Kyai Haji Saifuddin Ibrahim-Kebodohan dan Kebohongannya (Muhammad dalam kitab terdahulu-Kisah Salman al-Farisi)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html

2. Nubuat kedatangan Nabi Muhammad dari kisah Salman Al-Farisi.

Dari WIKIPEDIA.

Salman the Persian or Salman al-Farsi (Arabic: سلمان الفارسي‎‎), born Rouzbeh (Persian: روزبه‎‎), was a companion of the Islamic prophet Muhammad and the first Persianwho converted to Islam. During some of his later meetings with the other Sahabah, he was referred to as Abu Abdullah (“Father of Abdullah”). He is credited with the suggestion of digging a trench around Medina when it was attacked by Mecca in the Battle of the Trench. He was raised as a Zoroastrian, then attracted to Christianity, and then converted to Islam after meeting Muhammad in the city of Yathrib, which later became Medina. According to some traditions, he was appointed as the governor of Al-Mada’in in Iraq.

Informasi tentang Nabi yang akan datang.

Birth and early life

Salman was a Persian born either in the city of Kazerun in Fars Province, or Isfahan in Isfahan Province, Persia.[3][5][6] In a hadith, Salman also traced his ancestry toRamhormoz.[7][8][9] The first sixteen years of his life were devoted to studying to become a Zoroastrian magus or priest after which he became the guardian of a fire temple, which was a well-respected job. Three years later in 587 he met a Nestorian Christian group and was so impressed by them. Against the wishes of his father, he left his family to join them.[10] His family imprisoned him afterwards to prevent him but he escaped.[10]

He traveled around the Middle East to discuss his ideas with priests, theologians and scholars in his quest for truth.[10] During his stay in Syria, he heard of Muhammad, whose coming has been predicted by Salman’s last Christian teacher on his deathbed.[5] Afterwards and during his journey to the Arabian Peninsula, he was betrayed and sold to a Jew in Medina. After meeting Muhammad, he recognized the signs that the monk had described to him. He converted to Islam and secured his freedom with the help of Muhammad.[3][5] Abu Hurairah is said to have referred to Salman as “Abu Al Kitabayn” (The father of the two books, i.e., the Bible and the Quran) and Ali is said to have referred to him as Luqman al-Hakeem (Luqman the wise – reference to a wise man in the Quran known for his wise statements)[11]

Kisah lengkap kehidupan Salman Al-Farisi hingga memeluk Islam

https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/07/kisah-salman-al-farisi.html

Salman al Farisi, adalah seorang lelaki Persia dari Negeri Ashfahan. Ia sangat total dengan ajaran Majusiah, sampai bertugas sebagai penjaga sulutan api, yang selalu menyalakannya, tidak membiarkannya padam meskipun sejenak. Orang tuanya seorang kepala distrik, mempunyai ladang yang luas.

Suatu hari, lantaran kesibukannya, sang ayah berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, aku sedang sibuk membangun tempat ini hari ini, hingga tak sempat memeriksa ladang. Pergilah engkau dan lihat”.

Salman pun pergi menuju ladang keluarganya. Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah gereja Nashara. Di situ, ia mendengar suara-suara mereka saat mengerjakan shalat. Pemuda Salman tidak mengerti apa yang mereka kerjakan, lantaran ayahnya menahannya di dalam rumah. Begitu melihat cara shalat mereka, benar-benar membuat Salman terkagum-kagum. Akhirnya, tertarik dengan tingkah-laku mereka.

Salman berkata: “Demi Allah, ini lebih baik dari ajaran agama yang sedang kami peluk. Demi Allah, aku tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam”. Ladangnya pun tidak ia pedulikan, tidak jadi mendatanginya.

“Dari mana asal agama ini?” tanya Salman kepada mereka.
Mereka menjawab,”Di Syam.”

Kemudian Salman pulang ke rumah. Ternyata sang ayah telah mengutus seseorang untuk mencarinya. Kontan saja, ketika Salman sampai rumah, ayahnya bertanya: “Kemana saja engkau? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk melakukan sesuatu?”

Salman menjawab,”Tadi aku melewati sejumlah orang sedang mengerjakan shalat di sebuah gereja. Pemandangan praktek agama yang aku lihat membuatku takjub. Demi Allah, aku di sana terus bersama mereka sampai matahari terbenam”.

Ayahnya berkata,”Anakku, tidak ada kebaikan pada agama itu. Agamamu dan agama nenek-moyangmu lebih baik darinya.”

Salman menolak anggapan ayahnya: “Sekali-kali tidak, demi Allah. Sesungguhnya agama itu lebih baik dari agama kita”.

Kemudian ayahnya mengancam anaknya itu, mengalungkan rantai di kaki dan menahan Salman tetap di dalam rumah.[1]

Dalam keadaan seperti itu, Salman meminta seseorang untuk menemui orang-orang Nashara, untuk menyampaikan, jika datang rombongan pedagang Nashara dari Syam kepada mereka, agar memberitahukan kepadanya. Kemudian ia pun mendapat berita yang ia inginkan.

Ketika para pedagang Nashara ini hendak pulang kembali ke negeri mereka, maka rantai besi yang melilitnya, ia putuskan dan kemudian Salman pergi bersama mereka, dan akhirnya sampai ke Syam.

Sesampainya di Syam, Salman bertanya: “Siapakah orang yang terbaik dari para pemeluk agama ini?”

Mereka menjawab: “Uskup yang berada di dalam gereja”.

Salman pun mendatangi orang yang dimaksud, lantas berkata: “Sesungguhnya aku menyukai agama ini dan ingin hidup bersamamu. Melayanimu di gereja, belajar denganmu dan mengerjakan shalat bersamamu”.

Uskup itu menjawab: “Masuklah!”

Akan tetapi, ternyata pendeta tersebut seorang yang berperangai buruk; menyuruh orang bersedekah dan menganjurkannya. Bila barang-barang telah terkumpul padanya, pendeta itupun menyimpannya untuk kepentingan pribadi, bukan untuk para fakir-miskin. Bahkan pendeta itu berhasil mengumpulkan tujuh tempayan berisi emas dan perak. Serta merta, kebencian kepada lelaki tersebut menyelinap pada diri Salman, begitu menyaksikan perbuatan sang pendeta.

Hingga saatnya kematian menjemput sang pendeta. Orang-orang Nashara berkumpul untuk menguburnya. Salman pun membuka kedok pendeta ini.

Salman berkata,”Sesungguhnya ini orang jelek. Memerintahkan kalian untuk bersedekah dan menganjurkannya. Bila kalian sudah menyerahkan kepadanya, ia menyimpannya untuk kepentingannya sendiri, tidak memberi kaum miskin apapun.”

Orang-orang bertanya: “Darimana engkau tahu?”
“(Mari) aku tunjukkan simpanan hartanya,” jawab Salman.
Mereka menjawab,”Tunjukkan kami.”

Salman menuju tempat penyimpanan harta si pendeta itu. Orang-orang pun akhirnya berhasil mengeluarkan dari tempat itu sebanyak tujuh tempayan penuh dengan emas dan perak. Setelah menyaksikan, mereka berseru: “Demi Allah, kami tidak akan menguburnya selama-lamanya,” maka mereka lantas menyalib lelaki tersebut dan melemparinya dengan bebatuan.

Kemudian, orang-orang mengangkat lelaki lain sebagai penggantinya. Keadaan lelaki ini lebih baik dari yang terdahulu, lebih zuhud terhadap dunia dan sangat memperhatikan masalah akhirat. Tidak ada orang yang lebih menjaga malam dan siangnya dari orang ini. Salman sangat mencintainya. Untuk beberapa lama, ia hidup bersama pendeta ini. Hingga saat ajal mendatangi pendeta itu, Salman berkata kepadanya.

“Wahai Fulan, aku telah bersamamu, benar-benar mencintaimu dengan kecintaan yang besar. Sementara itu, telah datang kepadamu keputusan Allah yang telah engkau saksikan (kematian). Kepada siapakah engkau berpesan bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Ia menjawab,”Wahai anakku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun sekarang ini yang berada di atas ajaranku. Orang-orang sudah binasa dan merubah-rubah (ajaran), dan telah meninggalkan banyak ajaran-ajaran sebelumnya, kecuali satu lelaki di Moshul. Yaitu Si Fulan. Ia masih sama dengan ajaranku. Ke sanalah!”

Ketika ia meninggal dan dikubur, Salman pun menemui lelaki yang dimaksud.
“Wahai Fulan, sesungguhnya Si Fulan telah berwasiat keapdaku saat akan meninggal, untuk menjumpaimu dan memberitahuku, bahwa engkau berada di atas ajarannya,” kata Salman.

Lelaki itu menjawab: “Hiduplah bersamaku”.

Selanjutnya, Salman hidup bersamanya. Lelaki ini adalah sosok yang baik. Namun, tidak berapa lama, ia pun meninggal. Ketika kematian akan mendatanginya, Salman memohon kepadanya:

“Wahai fulan, sesungguhnya Fulan dulu berpesan kepadaku untuk menemuimu dan memerintahkanku untuk menjumpaimu. Sekarang telah datang (keputusan) dari Allah, seperti yang engkau saksikan. Kepada siapakah engkau berwasiat bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?

Ia menjawab,”Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui ada seseorang yang berada di atas kami, kecuali seorang lelaki di daerah Nashibin, yaitu Fulan. Temuilah ia!”

Ketika lelaki ini meninggal dan telah dikuburkan, Salman melaksanakan wasiat itu. Setelah berhasil menjumpai lelaki yang dimaksud, Salman pun menceritakan tentang dirinya dan wasiat yang disampaikan oleh pendeta sebelumnya.
Laki-laki menjawab: “Hiduplah bersamaku!”

Sosok laki-laki ini pun sama dengan dua kawannya. Dan tidak berapa lama kemudian, kematian mendatanginya. Ketika ia sedang sakaratul maut, Salman berkata kepadanya: “Wahai fulan, sesungguhnya Fulan (pendeta pertama), berpesan kepadaku untuk menjumpainya Fulan (pendeta kedua). Lalu ia berpesan kepadaku untuk menemuimu. Kepada siapa engkau berwasiat untukku? Apa yang engkau perintahkan?”

Ia menjawab: “Wahai anakku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seseorang yang tetap berada di atas ajaran kami yang aku perintahkan engkau menemuinya, kecuali seseorang di daerah ‘Amuriyyah. Ia masih sama dengan ajaran kami. Jika engkau mau, datangilah, sesungguhnya ia masih berada di atas ajaran kami!”

Usai penguburan, Salman pun pergi untuk menjumpai pendeta di ‘Amuriyah dan menyampaikan kepadanya tentang dirinya. Pendeta itu pun berkata: “Menetaplah bersamaku!”

Salman hidup bersama dengan insan yang selaras dengan petunjuk dan tindak-tanduk kawan-kawannya. Ia pun dapat bekerja, sampai memiliki sapi-sapi dan kambing. Hingga kemudian datang juga keputusan Allah, yaitu kematian mendatangi pendeta ini. Ketika si pendeta mengahadapi sakaratul maut, Salman berkata kepadanya:

“Dulu aku bersama Fulan, kemudian ia berwasiat kepadaku untuk menjumpai Fulan. Dan lantas ia berpesan kepadaku untuk menemui Fulan. Dan selanjutnya berwasiat untuk mendatangimu. Kepada siapakah engkau berwasiat bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Dia menjawab,”Wahai anakku. Aku tidak mengetahui ada orang yang masih berada di atas ajaran kami yang aku memerintahkan kepadamu untuk menjumpainya. Akan tetapi, telah datang kepadamu masa nabi (yang baru). Ia diutus di atas agama Ibrahim, bangkit di tanah Arab, melakukan hijrah ke tempat antara dua bukit batu yang pernah terbakar. Di sana tumbuh pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda-tanda yang tidak tersembunyi; mau makan hasil hadiah, tidak makan sedekahDI ANTARA DUA PUNDAKNYA TERDAPAT TANDA KENABIAN. Jika engkau bisa pergi ke negeri itu, lakukanlah!”

Di ‘Amuriyah, cukup lama Salman menghabiskan waktu di sana, hingga datanglah rombongan pedagang dari Bani Kalb, dan Salman pun berkata kepada mereka: “Maukah kalian membawaku ke Negeri Arab dan aku akan memberi kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?”

Mereka menjawab,”Baiklah!”

Salman memberikan itu semua kepada mereka dengan imbalan tumpangan sampai ke tanah Arab. Akan tetapi, mereka berbuat kenistaan kepadanya, dengan menjual dirinya kepada seorang lelaki Yahudi, layaknya seorang budak belian. Maka, Salman pun tinggal bersama lelaki Yahudi itu. Dan ternyata, Salman menyaksikan adanya pepohonan kurma di situ. Dia pun berharap, inilah tempat yang digambarkan kawannya (pendeta), tetapi ia belum merasa yakin.

Hingga suatu saat, datanglah kemenakan lelaki Yahudi itu dari Madinah. Yaitu dari Bani Quraizhah. Dia membeli Salman dari pamannya dan membawanya ke Madinah. Di kota Madinah ini, Salman menemukan kesesuaian dengan yang digambarkan pendeta terakhir yang ia jumpai. Salman akhirnya menghabiskan waktunya sebagai budak dengan majikan yang baru.

Berita tentang hijrah Nabi yang dibangkitkan di tanah Arab ke Madinah sudah tersiar. Saat pertama kali mendengar berita itu, Salman sedang berada di atas pohon kurma milik majikannya. Sedangkan majikannya sedang duduk.

Tiba-tiba kemenakan sang majikan ini datang dan berdiri di hadapannya, sambil berkata: “Semoga Allah memerangi Bani Qailah. Demi Allah, mereka sekarang berkumpul di Quba, mengelilingi seorang lelaki yang datang dari Mekkah hari ini, yang mengaku dirinya seorang Nabi”.

Ketika Salman mendengarnya, seluruh tubuhnya gemetar, sampai mengira hampir jatuh menimpa majikan yang berada di bawahnya. Lalu Salman turun dari pohon kurma, dan bertanya kepada kemenakan si majikan: “Apa yang engkau katakan? Apa yang engkau katakan?”

Sang majikan marah dan menampar pipinya dengan pukulan yang sangat keras, lantas berkata,”Apa urusanmu dengannya? Teruslah bekerja!”

Salman menjawab,”Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui ucapannya saja.”

Sebelumnya, Salman telah mempunyai sesuatu (kurma) yang telah ia kumpulkan. Saat sore harinya, ia pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang sedang berada di Quba.

Kata Salman,”Telah sampai kepadaku berita, kalau engkau orang yang baik, (datang) bersama para sahabatmu yang asing lagi memerlukan bantuan. Ini ada sesuatu untuk sedekah. Aku melihat kalian sangat berhak daripada orang lain,” maka aku pun mendekatkan (sedekah itu) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Rasulullah berkata kepada para sahabat: “Makanlah,” tetapi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menahan tangannya dan tidak mau makan.

Salman berkata dalam hati: “Ini tanda pertama”.

Pada kesempatan berikutnya, Salman mengumpulkan sesuatu dan Rasulullah telah tinggal di Madinah. Salman berkata,”Aku melihatmu tidak mau makan sedekah. Ini adalah hadiah, aku ingin memuliakan dirimu dengannya,” maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memakannya, dan menyuruh para sahabat ikut makan bersama beliau.

Dalam hati, Salman berkata: “Ini tanda kedua”.

Berikutnya, Salman mendatangi Rasulullah ketika berada di Baqi Gharqad, yaitu ketika sedang melayat jenazah salah seorang sahabatnya. Beliau mengenakan dua kain, duduk di antara para sahabat.

Maka, Salman datang dan melontarkan salam kepada beliau. Setelah itu, ia berputar ke belakang untuk melihat punggung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , untuk memastikan tanda kenabian yang disebutkan oleh pendeta. Ketika Rasulullah menyadari keingintahuan Salman, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melepaskan kain atasnya dari punggung, dan Salman menyaksikan tanda kenabian tersebut, sebagaimana ia mengenalnya dari cerita yang pernah ia dengar.

Kemudian, Salman segera mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , menciumi tanda itu dan menangis. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Salman: “Kemarilah,” maka aku ke depan beliau, dan aku bercerita kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . .


Tejadi kesamaan yang mengagumkan dari kisah Pendeta Buhaira dan Kisah Salman Al-Farisi.

Pendeta Buhaira:

“When you appeared from the direction of ‘Aqabah, all stones and trees prostrated themselves, which they never do except for a Prophet. I can recognize him also by the  SEAL OF PROPHETHOOD WHICH IS BELOW HIS SHOULDER , like an apple. We have got to learn this from our books.”

Pendeta guru dari Salman Al-Farisi berwasiat:

Dia menjawab,”Wahai anakku. Aku tidak mengetahui ada orang yang masih berada di atas ajaran kami yang aku memerintahkan kepadamu untuk menjumpainya. Akan tetapi, telah datang kepadamu masa nabi (yang baru). Ia diutus di atas agama Ibrahim, bangkit di tanah Arab, melakukan hijrah ke tempat antara dua bukit batu yang pernah terbakar. Di sana tumbuh pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda-tanda yang tidak tersembunyi; mau makan hasil hadiah, tidak makan sedekahDI ANTARA DUA PUNDAKNYA TERDAPAT TANDA KENABIAN. Jika engkau bisa pergi ke negeri itu, lakukanlah!”

Inilah kesaksian para sahabat Nabi Muhammad SAW tentang TANDA KENABIAN NABI SAW (SEAL OF PROPHETHOOD).

http://www.inter-islam.org/hadeeth/st2.htm

Jaabir bin Samurah (Radhiallahu Anhu reports that: “I saw the Seal of Prophethood of Rasullullah (Sallallahu alaihi wasallam) between his two shoulders, which was like a red tumour (protruding flesh), the size of which was like that of a pigeon’s egg”.

Ebrahim bin Muhammad (Radhiallahu Anhu), who is the granson of Ali (Radhiallahu anhu said: “Whenever Ali (Radhiallahu Anhu) used to discribe the noble attributes of Rasullullah (Sallallahu Alaihi wasallam), he used to mentioned the complete hadith.  He also used to say that the Seal of Prophethood was between his shoulders, and Rasullullah (Sallallahu alaihi wasallam) was the seal of all prophets”.

Abdullah bin Sarjas Radiyallahu ‘Anhu says: “I came to Rasulullah Sallallahu ‘Alayhi Wasallam while there were people sitting in his company. I went around to the back of Rasulullah Sallallahu ‘Alayhi Wasallam (The narrator may have done this physically). Rasulullah Sallallahu ‘Alayhi Wasallam understood what I was trying to do. He removed the sheet (body wrap) from his back. I saw the place of the Seal of Prophethood between his two shoulders. It was like a cluster surrounded by til (moles) which appeared to be like a wart.

Dari kisah salman Al-Farisi, selain TANDA KENABIAN DIANTARA KEDUA PUNDAKNYA, terdapa nubuat lain:

Nabi yang akan datang TIDAK MENERIMA SEDEKAH , TETAPI MENERIMA HADIAH.

Ini cuplikan dari hadith-hadith.

http://e-muamalat.gov.my/e-hadith/nabi-menerima-hadiah-dan-menolak-sedekah

Hadits Muslim 1790

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَلَّامٍ الْجُمَحِيُّ حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنَ مُسْلِمٍ عَنْ مُحَمَّدٍ وَهُوَ ابْنُ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ أَكَلَ مِنْهَا وَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا

Telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Sallam Al Jumahi] telah menceritakan kepada kami [Ar Rabi’ bin Muslim] dari [Muhammad bin Ziyad] dari [Abu Hurairah] bahwasanya; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberi makanan, maka beliau pasti menanyakannya. Bila dikatakan bahwa itu adalah hadiah, maka beliau memakannya, dan bila dikatakan bahwa itu adalah sedekah, maka beliau tidak memakannya.”

Kesimpulan dari Kisah Salman Al-Farisi, Nabi yang akan datang:

  1. Berasal dari AGAMA IBRAHIM.
  2. Dilahirkan di TANAH ARAB
  3. Melakukan HIJRAH
  4. Terdapat TANDA KENABIAN DIANTARA KEDUA BAHUNYA.
  5. Tidak menerima SEDEKAH tapi menerima HADIAH

Semua itu merujuka pada Nabi Muhammad SAW dan semua NUBUAT dari naskah-naskah lama sudah dihapus oleh tangan mereka.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: