WE DEFEND ISLAM

A topnotch WordPress.com site

Monthly Archives: July 2016

Part 14-Menjawab tuduhan redaksipetang.blogspot.co.id (Nabi menghalalkan pembunuhan-Tentang surat 2:190-191-Tafsir)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html


“redaksipetang.blogspot.co.id” menuliskan:

Kitab Suci sebelumnya mengajar ”Kasihilah sesamamu manusia” (Im 19:18, Mat 5:44), namun ”nabi terakhir” mengajar ”perangilah musuh Allah dan rasul-Nya (Muhammad) (S 2:190-191, 9:5, 123; 47:4 dll.) bahkan menghalalkan membunuh orang Yahudi dan Kristen yang adalah Umat Perjanjian-Nya (S 9:29)

Artikel ini adalah lanjutan dari:

https://wedefendislam.wordpress.com/2016/07/20/part-13-menjawab-tuduhan-redaksipetang-blogspot-co-id-nabi-menghalalkan-pembunuhan-tentang-surat-2190-191/

Pembahasan tentang ayat-ayat ayat-ayat 190,191,192,193 dan 194 dari surat Al-Baqarah pada link diatas, mampu meng-expose ETIKA PERANG yang digariskan tegas oleh Allah SWT terhadap para Muslim. Anda dapat melihat JELAS ajaran DAMAI (Peaceful Teaching) dari Islam didalam suasana PERANG.

Dibawah ini kita jelaskan (ajarkan?) pada para missionaris tentang ayat-ayat tersebut dari KONTEKS apa ayat-ayat tersebut diturunkan.


2:190
Sahih International

Fight in the way of Allah those who fight you but do not transgress. Indeed. Allah does not like transgressors.

Indonesian

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.


Tafsir Ibn. Katsir

Mengenai firman Allah: wa qaatiluu fii sabiilillaaHil ladziina yuqaatiluunakum (“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangimu.”) Abu Ja’far ar-Razi meriwayatkan dari Rabi’ bin Anas, dari Abu al-Aliyah, ia mengatakan, “Ini adalah ayat pertama yang turun mengenai perang di Madinah. Setelah ayat ini turun, maka Rasulullah memerangi orang-orang yang telah memeranginya dan menahan diri terhadap orang-orang yang tidak memeranginya hingga turun surat at-Taubah.
IN PROGRESS

Quran 2:191- ‘And kill them wherever you find them…’ Explained

by • AUGUST 12, 2014

https://discover-the-truth.com/2014/08/12/quran-2191-and-kill-them-wherever-you-find-them-explained/


Kaleef K. Karim

Quran 2:191 – “And kill them wherever you find them…”

Critics as usual apply ‘cut and choose’ approach with regards to this passage (Quran 2:191). They only quote, And kill them wherever you find them…(2:191). However, when we read the passage in its context (2:190-195) it says opposite what they portray of the verse.

Quran 2:190 – 195

2:190 Fight in the way of God those who fight you but do not transgress. Indeed. God does not like transgressors.
2:191 And kill them wherever you find them and expel them from wherever they have expelled you, and fitnah [Persecution] is worse than killing. And do not fight them at al-Masjid al- Haram until they fight you there. But if they fight you, then kill them. Such is the recompense of the disbelievers.
2:192 And if they cease, then indeed, God is Forgiving and Merciful.
2:193 Fight them until there is no [more] fitnah [Persecution] and [until] worship is for God. But if they cease, then there is to be no aggression except against the oppressors.
2:194 [Fighting in] the sacred month is for [aggression committed in] the sacred month, and for [all] violations is legal retribution. So whoever has assaulted you, then assault him in the same way that he has assaulted you. And fear God and know that God is with those who fear Him.
2:195 And spend in the way of God and do not throw [yourselves] with your [own] hands into destruction [by refraining]. And do good; indeed, God loves the doers of good.

It’s important whenever one reads a Quranic verse, to read it in its context. As you have read, critics only quote the part which suites them, they isolate previous verses and the ones after. When the passage is examined in context, it is clear that nowhere does it sanction the killing of innocent people. From verse 2:190 to 2:195, when read, Allah makes it evident to fight those only who fight them, fighting in self-defence.

Read more of this post

Part 13-Menjawab tuduhan redaksipetang.blogspot.co.id (Nabi menghalalkan pembunuhan-Tentang tekstual surat 2:190-191-Etika Perang)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html


“redaksipetang.blogspot.co.id” menuliskan:

Kitab Suci sebelumnya mengajar ”Kasihilah sesamamu manusia” (Im 19:18, Mat 5:44), namun ”nabi terakhir” mengajar ”perangilah musuh Allah dan rasul-Nya (Muhammad) (S 2:190-191, 9:5, 123; 47:4 dll.) bahkan menghalalkan membunuh orang Yahudi dan Kristen yang adalah Umat Perjanjian-Nya (S 9:29)

Sudah saya terangkan tentang “Mengasihi sesama manusia dan berbuat kebaikan” pada lembaran sebelumnya. Silahkan baca:

Para missionaris Kristen lebih banyak mengutip ayat-ayat dari apa yang dikatakan para Anti Islam di website yang mereka temukan tanpa meninjau lebih dalam dan menggali apa makna dan asal-usul dari ayat-ayat yang bersangkutan. Anda bisa mengatakan bahwa mereka “IGNORANCE” (the lack of knowledge or education / Kebodohan, ketidak-tahuan). Disini akan saya buktikan.

Saya akan bahas secara TEKSTUAL ayat-ayat 190,191,192,193 dan 194 dari surat Al-Baqarah. Disini saya akan tunjukkan ETIKA PERANG DALAM ISLAM yang disarikan dari ayat-ayat tersebut. Pembahasan BELUM MENYANGKUT KONTEKS dari ayat-ayat.

2:190
Sahih International

Fight in the way of Allah those who fight you but do not transgress. Indeed. Allah does not like transgressors.

Indonesian

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

ETIKA PERANG :
1. Perangi mereka YANG MEMERANGIMU. (Jangan memerangi yang tidak bersalah / self defense).
2. JANGAN MELAMPAUI BATAS didalam peperangan.

Read more of this post

What does the Bible say about war? (A miss understanding about “You shall not kill,”Christian’s perspective)


These articles are good for you when you debate the Christians who claim that our Prophet SAW is a Prophet of war. Teaches the followers to go to war and they will say Christianity is a peaceful loving “Prohibit of killing” regardless.


Question: “What does the Bible say about war?” (from christian’s perspective)

Source : http://www.gotquestions.org/war-Bible.html

Answer:

Many people make the mistake of reading what the Bible says in Exodus 20:13, “You shall not kill,” and then seeking to apply this command to war. However, the Hebrew word literally means “the intentional, premeditated killing of another person with malice; murder.” God often ordered the Israelites to go to war with other nations (1 Samuel 15:3; Joshua 4:13). God ordered the death penalty for numerous crimes (Exodus 21:12, 15; 22:19; Leviticus 20:11). So, God is not against killing in all circumstances, but only murder. War is never a good thing, but sometimes it is a necessary thing. In a world filled with sinful people (Romans 3:10-18), war is inevitable. Sometimes the only way to keep sinful people from doing great harm to the innocent is by going to war.

In the Old Testament, God ordered the Israelites to “take vengeance on the Midianites for the Israelites” (Numbers 31:2). Deuteronomy 20:16-17 declares, “However, in the cities of the nations the LORD your God is giving you as an inheritance, do not leave alive anything that breathes. Completely destroy them…as the LORD your God has commanded you.” Also, 1 Samuel 15:18 says, “Go and completely destroy those wicked people, the Amalekites; make war on them until you have wiped them out.” Obviously God is not against all war. Jesus is always in perfect agreement with the Father (John 10:30), so we cannot argue that war was only God’s will in the Old Testament. God does not change (Malachi 3:6; James 1:17).
Read more of this post

Part 12-Menjawab tuduhan redaksipetang.blogspot.co.id (Nabi menghalalkan pembunuhan-Perintah perang di Al-Kitab)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html


“redaksipetang.blogspot.co.id” melanjutkan:

Kitab Suci sebelumnya mengajar ”Kasihilah sesamamu manusia” (Im 19:18, Mat 5:44), namun ”nabi terakhir” mengajar ”perangilah musuh Allah dan rasul-Nya (Muhammad) (S 2:190-191, 9:5, 123; 47:4 dll.) bahkan menghalalkan membunuh orang Yahudi dan Kristen yang adalah Umat Perjanjian-Nya (S 9:29)

Bapak-bapak missionaris seakan mengatakan tidak ada satu ajaran kebaikanpun didalam Islam.
Saya recommend untuk buka web ini.

Mari kita bahas ketidak pahaman anda terhadap ayat-ayat yang anda ajukan.


Anda menuliskan: ”perangilah musuh Allah dan rasul-Nya (Muhammad) (S 2:190-191, 9:5, 123; 47:4 dll.)


Kenapa para missionaris begitu sensitif dengan kata PERANGI MUSUH ALLAH DAN RASULNYA kalau di Al-Kitab anda sendiri tidak tehitung PERINTAH PERANG UNTUK PARA NABI DAN RASUL DARI ALLAH SWT?

Dibawah ini Perintah Allah di dalam Perjanjian Lama pada Nabi Musa A.S untuk berperang.  http://www.sabda.org/sabdaweb/bible/chapter/?b=4&c=31

Kitab BILANGAN: 31:6 Lalu Musa menyuruh mereka untuk berperang, seribu orang dari tiap-tiap suku, bersama-sama dengan Pinehas, h anak imam Eleazar, untuk berperang, dengan membawa perkakas tempat kudus i dan nafiri-nafiri j pemberi tanda semboyan. 31:7Kemudian berperanglah mereka melawan Midian, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, k lalu membunuh semua laki-laki mereka. l31:8 Selain dari orang-orang yang mati terbunuh itu, merekapun membunuh juga raja-raja Midian, yakni Ewi, Rekem, Zur, Hur dan Reba, m kelima raja Midian, n juga Bileam bin Beor o dibunuh mereka dengan pedang. p31:9Kemudian Israel menawan perempuan-perempuan q Midian dan anak-anak mereka; juga segala hewan, segala ternak dan segenapkekayaan mereka dijarah.

Bagaimana dengan Nabi Daud A.S yang diperintahkan oleh Tuhannya untuk berperang? Bukankah Daud juga seorang Nabi?  http://www.wordplanet.org/id/13/18.htm#0

Read more of this post

Part 11-Menjawab tuduhan redaksipetang.blogspot.co.id (Pemindahan kiblat)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html


“redaksipetang.blogspot.co.id” melanjutkan:

Kiblat sembayang berpindah dari kota suci Yerusalem ke kota Mekkah, setelah orang Yahudi menolak kenabian Muhammad (S 2:144 & 27:91)

Sayang sekali bapak-bapak missionaris belum belajar sejarah pemindahan KIBLAT dari biografi Nabi Muhamamd SAW dan ayat Al-Qur’an. Tidak pernah ditemukan keterangan bahwa Pemindahan KIBLAT dilakukan karena para Yahudi menolak kenabian.
Dari Al-Qur’an surat: 2:144
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Read more of this post

Part 10-Menjawab tuduhan redaksipetang.blogspot.co.id (Kontradiksi Al-Qur’an-Percaya kitab suci terdahulu)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html


Selesai dari alasan-alasan mengapa mantan kiyai Saifuddin MURTAD, website Kristen “redaksipetang.blogspot.co.id” meneruskan tentang kontradiksi-kontradiksi didalam Al-Qur’an.


Pada satu sisi Kuran mengatakan Alkitab adalah petunjuk dan cahaya serta kitab-kitab Allah dan Yahudi serta Kristen adalah saksi Kitab Suci tersebut (S 5:44), rugi jika tidak percaya (S 2:121), siapa yang memperselisihkan Alkitb adalah manusia yang menyimpang (S 2:176); tetapi di lain surah, Kuran menuduh kedua kelompok tersebut sebagai pembohong, menuduh telah mengkorupsi Alkitab (S 3:78). [Fakta adalah Firman Elohim berkata Alkitab tidak boleh ditambah dan dikurangi, sementara di dalam ilmu agama Islam ada pelajaran ”pembuangan, penggantian dan penambahan surah-surah di Kuran.


APA BETUL KONTRADIKSI? Mari kita lihat ayat per ayat.
Surat 5:44 
إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِن كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.


Surat 2:121
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.


Surat 2: 176
َٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ نَزَّلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ
Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran).
(sebenarnya ayat ini serupa dengan ayat 3:78 dibawah setelah anda melihat dua surat sebelumnya 2:174. Tapi bapak-bapak missionaris tidak tahu ini.)

Surat 3:78
ذوَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.

TIDAK KONTRADIKSI.
Bapak-bapak missionaris harus paham bahwa Al-Qur’an memang menerangkan bahwa kita harus beriman pada kitab-kitab terdahulu (Taurat, Injil dan Zabur). Tapi kitab-kitab terdahulu yang dimaksud adalah kitab-kitab ORIGINAL yang diwahyukan pada para Nabi. Selain keharusan mempercaya kitab ORIGINAL terdahulu, Al-Qur’an juga menerangkan bahwa isi dari kitab-kitab ORIGINAL sudah TERCAMPUR TANGAN MANUSIA yang mencoba menyembunyikan, menghapus atau menggantikannya dengan kata-kata mereka sendiri.
Jadi bagaimanapun anda ajukan ayat-ayat berisi “KAMI TURUNKAN ALKITAB” seperti : “Kami berikan Al Kitab”, Kami telah menurunkan Kitab Taurat”, “Allah telah menurunkan Al Kitab” (Ayat 5:44, 2:121 dan 2: 176) tetap dimaksudkan KITAB YANG BELUM TER-KORUPSI”
Surat 3:78 berbicara tentang KEJAHATAN MANUSIA-MANUSIA YANG KERJANYA MONGKORUPSI KITAB ALLAH. Ayat ini tidak sama sekali berhubungan dengan KITAB ORIGINAL seperti yang terdapat pada Ayat 5:44, 2:121 dan 2: 17  karena hasil kerja kriminal para pemalsu kalimat-kalimat AllahSWT BUKAN LAGI HAL YANG HARUS KITA IMANI.

Read more of this post

Part 9-Menjawab tuduhan redaksipetang.blogspot.co.id (Kontradiksi Al-Qur’an -Al-Qur’an perkataan Rasul atau Allah?)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html


Selesai dari alasan-alasan mengapa mantan kiyai Saifuddin MURTAD, website Kristen “redaksipetang.blogspot.co.id” meneruskan tentang kontradiksi-kontradiksi didalam Al-Qur’an.


Kesaksian pertobatan Dr. Michael brwon: Tradisi atau kebenaran?
Dr. Tawfik Hamid: Kita para Muslim perlu mengakui masalah2 kita dan hadapi mereka
3. Banyak sekali ayat-ayat Kuran yang meragukan imannya [7]
3.1. Ayat-ayat Kuran saling bertentangan satu dengan lainnya. Surah 4:82  – ”Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” terjemahan lain: Had it been from other than Allâh, they would surely have found therein much contradictions (NQ)[8]. – surah ini mengklaim superioriti Kuran, namun juga menjadi batu sandungan bagi Kuran itu sendiri.
S 4:82 mengklaim Kuran pasti dari Allah, namun S 69:40 berbunyi: ”Sesungguhnya Al-Quran itu adalah perkataan Rasul [Muhammad; lihat S 27:91 sebagai contoh].”

Kalau kalian para missionaris terlalu sensitif dengan (a so called) kontradiksi didalam Al-Qur’an, bagaimana dengan kontradiksi pada Bible anda?

Salah satu kelemahan dari para “Missionaris” dalam perdebatan, mereka suka memenggal ayat dan mendakwanya sebagai suatu kesalahan. Tapi semua akan berbalik pada mereka setelah kita ajukan ayat-ayat lanjutan dari apa yang mereka ajukan. Mari kita lihat.:
Surat 69 (Al-Haaqah) : 40
Pickthall

That it is indeed the speech of an illustrious messenger.

Yusuf Ali

That this is verily the word of an honoured messenger;

Indonesian

Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,

Pada terjemahan berbahasa Inggris, memang jelas dikatakan bahwa Al-Qur’an adalah kata-kata seorang Rasul yang dimuliakan. 
Tetapi terjemahan bahasa Indonesia jelas mengatakan bahwa “Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,”
Mengapa harus diberikan tambahan penjelasan? karena pada ayat selanjutnya  (69:43) Allah SWT menjelaskan:
تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ
Pickthall

It is a revelation from the Lord of the Worlds.

Yusuf Ali

(This is) a Message sent down from the Lord of the Worlds.

Indonesian

Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.

Jadi, surat 69:40 yang diajukan para missionaris untuk menunjukkan bukti bahwa Al-Qur’an adalah kata-kata Rasul adalah ayat yang belum selesai. Lanjutannya adalah 69:43
Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.
Apakah cukup disitu? TIDAK. Ada keterangan lebih keras dari ALLAH SWT bahwa kata-kata didalam Al-Qur’an bukanlah kehendak atau ikut campur dari Nabi Muhammad SAW.
Perhatikan bagaimana kerasnya HUKUMAN dari Allah SWT apa bila Nabi SAW berusaha memasukkan kata-kata dari dirinya sindiri kedalam Al-Qur’an.
Surat 69:
43:Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.
44:Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,
45:niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya.
46:Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.
47:Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.
Jadi para bapak missionari di”redaksipetang.blogspot.co.id”, TIDAK KONTRADIKSI. Semua tuduhan anda dan para MANTAN Muslim semata-mata karena kebodohan anda semua terhadap Al-Qur’an.
Melengkapi segala kekacauannya, bapak-bapak missionaris mengajukan ayat yang sama sekali tidak berhubungan dengan pernyataan bahwa “Al-Qur’an berasal dari kata-kata Rasul”
Di ajukan :[Muhammad; lihat S 27:91 sebagai contoh].

 

Inilah surat 27:91

Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

Apakah para teman sekalian menemukan hubungan kata-kata diatas dengan pernyataan bahwa Al-Qur’an berasal dari kata-kata Rasul?


 

Part 8-Kyai Haji Saifuddin Ibrahim-Kebodohan dan Kebohongannya (Isteri-isteri boleh dipukul)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html


Mantan Kiyai Mengatakan:

Isteri-isteri boleh dipukul (Surah 4:34), sebaliknya Alkitab bukan hanya tidak boleh memukuli isteri, lebih lagi mereka harus dikasihi (Ef 5:25)


Wahai pak Kiyai, bagaimana mungkin anda sebagai seorang kiyai semata-mata mendengarkan apa yang dikatakan para pembenci Islam tentang surat 4:34? Apakah tidak sebaiknya anda kembali mempelajari surat ini dari segi bahasaa dan mencari jawaban berdasarkan research yang serius dan matang? Apa yang akan diterangkan dibawah ini sudah tidak asing lagi untuk mereka yang mengikuti perdebatan Islam-Kristen. Akar permasalahannya adala kata DARABA.


الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
Transliteration

Kata driboohunna yang banyak diartikan “PUKULLAH / BEAT / STRIKE” berakar kata DARABA.

Kalau kata DARABA mempunyai arti tunggal sebagai PUKULLAH, mengapa dalam sejarah hidup Nabi Muhamamad SAW, tidak satupun ditemukan kabar beliau memukul para istrinya?
Bahkan beliau adalah manusia mempunyai perilaku yang paling baik terhadap mereka dalam situasi apapun dan selalu menganjurkan para suami untuk melakukan yang terbaik pada para istrinya.
Dari HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya

Dar: HR At-Thirmidzi no 3895,Ibnu Majah no 1977, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 285

خَيْرُكُمْخَيْرُكُمْلِأَهْلِهِوَأَنَاخَيْرُكُمْلِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.”

اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)

Hadith lainnya,

  1. Rasulullah SAW bersabda yang Artinya :
    “Kewajiban seorang suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan kepadanya jika ia makan dan memberi pakaian kepadanya jika ia berpakaian dan tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh memperolokkan dia dan juga tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur (ketika isteri membangkang).”
    (Riwayat Abu Daud)
  2. Nabi SAW bersabda yang bermaksud
    “Sesungguhnya yang termasuk golongan mukmin yang paling sempuma imannya ialah mereka yang baik budi pekertinya dan mereka yang lebih halus dalam mempergauli keluarganya (isteri anak-anak dan kaum kerabatnya). “

Nabi Muhammad SAW tidak menganjurkan jalan kekerasan terhadap wanita TERUTAMA ISTRI.

Dalam “Pembahasan Dilema Ayat Pemukulan Istri (An-Nisa, 4: 34) Dalam Kajian Tafsir Indonesia” karya Faqihuddin Abdul Kodir, dikatakan:

Dalam pendekatan ini, diwakili oleh Muhammad Shahrur dalam bukunya al-Kitâb wa al-Qur’ân: Qirâ’ah Mu’sârah (1992), kalimat “wadribûhunnatidak diartikan sebagai
“pukullah”. Menurutnya, kata ‘daraba’, asal kata dari wadribûhunna, tidak bisa diartikan sebagai pemukulan fisik jika tidak dibarengi dengan obyek tubuh yang fisikal, seperti lengan, kepala, atau leher. Kata ‘daraba’ jika disusul dengan seseorang, seperti perempuan pada kasus ayat 4: 34, maka tidak bisa diartikan kecuali dengan arti “ambil langkah tegas dalam kasus ketidak-taatan itu”,setelah semua upaya nasihat dan pisah ranjang tidak membawa hasil. Langkah tegas atau sikap tegas ini diambil sebelum upayapenyelesaian melalui percerian.


Untuk menterjemahkan kata “DARABA” sebagai “PUKULLAH”‘, AL-QUR’AN SELALU MENYERTAI KATA KETERANGAN TENTANG:

1) “OBJEK YANG DIPAKAI UNTUK MEMUKUL.

2) OBJEK MANA YANG HARUS DIPUKUL.

Contoh:

2:60 Pukullah batu (2) dengan tongkatmu (1)
2:73 Pukullah mayat (2) dengan sebahagian anggota sapi betina itu (1)
7:160 Pukullah batu itu (2)dengan tongkatmu (1)
38:44 ambillah dengan tanganmu seikat (rumput) (2) pukullah dengan itu (1)

 Hanya surat 4:34 kata DARABA tidak disertai keterangan tentang OBJEK yang dipakai dan OBJEK mana yang harus dipukul. Dengan demikian, selain tidak tepat menterjemahkannya dengan “PUKULLAH”, kata DARABA terbuka untuk makna-makna lainnya. Itu karena kata DARABA mempunyai banyak arti.

DARABA vb. (I) ~ to strike, smite, stamp, beat; to liken or strike (a parable or similitude), to cite (an example or a dispute); (daraba fi al-ard) to journey; to draw or cast (a veil); (with prep. ‘ala’) to pitch on, to stamp; (with prep. ‘an) to turn something away; (with prep. bayn) to set up between, to separate, (n.vb) striking, smiting, etc.; (with prep. fi) journeying. ( KASSIS. H E, A Concordance of the Qur’an, University of California Press: Berkeley-Los Angeles-London, Page 410)

a deep41

Source: Hans Wehr’s Modern Written Arabic 

Perhatikan makna lain dari DARABA yang lebih mengena ditinjau dari sabda-sabda Rasulullah SAW dan aya-ayat Al-Qur’an mengenai pergaulan suami dan istri.

DARABA = TO SEPARATE (PISAHKAN) , PART, TO TURN AWAY FROM (JAUHI MEREKA), LEAVE (TINGGALKANLAH) , FORSAKE (TINGGALKAN / ABAIKAN), ABANDON (ABAIKANLAH), AVOID (HINDARILAH) OR SHUN (HINDARILAH)

Menterjemahkan DARABA sebagai PUKULLAH, bertentangan dengan ajaran kasih sayang dan cinta dari Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW. Perhatikan dibawah ini.

Surat 4 (Annisa) : 19

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu ketika menafsirkan ayat dalam surah An-Nisa` di atas, menyatakan:

“Yakni perindahlah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) serta perbaguslah perilaku dan penampilan kalian sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat yang sama.

Kata PUKULLAH bertentangan dengan kata BERSABAR.

Hadith:

Dari HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya

Dar: HR At-Thirmidzi no 3895,Ibnu Majah no 1977, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 285

خَيْرُكُمْخَيْرُكُمْلِأَهْلِهِوَأَنَاخَيْرُكُمْلِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.”

اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)

BAGAIMANA MUNGKIN SEORANG KIYAI TIDAK MENGANALISA SEPERTI INI? YANG DIA DENGARKAN SEMATA-MATA APA PENDAPAT MUSUH ISLAM TERHADAP ISLAM.

Part 7B-Kyai Haji Saifuddin Ibrahim-Kebodohan dan Kebohongannya (Muhammad dalam kitab terdahulu-Kisah Salman al-Farisi)

Original link: http://redaksipetang.blogspot.co.id/2016/07/alasan-kyai-haji-saifuddin-ibrahim-dari.html

2. Nubuat kedatangan Nabi Muhammad dari kisah Salman Al-Farisi.

Dari WIKIPEDIA.

Salman the Persian or Salman al-Farsi (Arabic: سلمان الفارسي‎‎), born Rouzbeh (Persian: روزبه‎‎), was a companion of the Islamic prophet Muhammad and the first Persianwho converted to Islam. During some of his later meetings with the other Sahabah, he was referred to as Abu Abdullah (“Father of Abdullah”). He is credited with the suggestion of digging a trench around Medina when it was attacked by Mecca in the Battle of the Trench. He was raised as a Zoroastrian, then attracted to Christianity, and then converted to Islam after meeting Muhammad in the city of Yathrib, which later became Medina. According to some traditions, he was appointed as the governor of Al-Mada’in in Iraq.

Informasi tentang Nabi yang akan datang.

Birth and early life

Salman was a Persian born either in the city of Kazerun in Fars Province, or Isfahan in Isfahan Province, Persia.[3][5][6] In a hadith, Salman also traced his ancestry toRamhormoz.[7][8][9] The first sixteen years of his life were devoted to studying to become a Zoroastrian magus or priest after which he became the guardian of a fire temple, which was a well-respected job. Three years later in 587 he met a Nestorian Christian group and was so impressed by them. Against the wishes of his father, he left his family to join them.[10] His family imprisoned him afterwards to prevent him but he escaped.[10]

He traveled around the Middle East to discuss his ideas with priests, theologians and scholars in his quest for truth.[10] During his stay in Syria, he heard of Muhammad, whose coming has been predicted by Salman’s last Christian teacher on his deathbed.[5] Afterwards and during his journey to the Arabian Peninsula, he was betrayed and sold to a Jew in Medina. After meeting Muhammad, he recognized the signs that the monk had described to him. He converted to Islam and secured his freedom with the help of Muhammad.[3][5] Abu Hurairah is said to have referred to Salman as “Abu Al Kitabayn” (The father of the two books, i.e., the Bible and the Quran) and Ali is said to have referred to him as Luqman al-Hakeem (Luqman the wise – reference to a wise man in the Quran known for his wise statements)[11]

Kisah lengkap kehidupan Salman Al-Farisi hingga memeluk Islam

https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/07/kisah-salman-al-farisi.html

Salman al Farisi, adalah seorang lelaki Persia dari Negeri Ashfahan. Ia sangat total dengan ajaran Majusiah, sampai bertugas sebagai penjaga sulutan api, yang selalu menyalakannya, tidak membiarkannya padam meskipun sejenak. Orang tuanya seorang kepala distrik, mempunyai ladang yang luas.

Suatu hari, lantaran kesibukannya, sang ayah berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, aku sedang sibuk membangun tempat ini hari ini, hingga tak sempat memeriksa ladang. Pergilah engkau dan lihat”.

Salman pun pergi menuju ladang keluarganya. Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah gereja Nashara. Di situ, ia mendengar suara-suara mereka saat mengerjakan shalat. Pemuda Salman tidak mengerti apa yang mereka kerjakan, lantaran ayahnya menahannya di dalam rumah. Begitu melihat cara shalat mereka, benar-benar membuat Salman terkagum-kagum. Akhirnya, tertarik dengan tingkah-laku mereka.

Salman berkata: “Demi Allah, ini lebih baik dari ajaran agama yang sedang kami peluk. Demi Allah, aku tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam”. Ladangnya pun tidak ia pedulikan, tidak jadi mendatanginya.

“Dari mana asal agama ini?” tanya Salman kepada mereka.
Mereka menjawab,”Di Syam.”

Kemudian Salman pulang ke rumah. Ternyata sang ayah telah mengutus seseorang untuk mencarinya. Kontan saja, ketika Salman sampai rumah, ayahnya bertanya: “Kemana saja engkau? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk melakukan sesuatu?”

Salman menjawab,”Tadi aku melewati sejumlah orang sedang mengerjakan shalat di sebuah gereja. Pemandangan praktek agama yang aku lihat membuatku takjub. Demi Allah, aku di sana terus bersama mereka sampai matahari terbenam”.

Ayahnya berkata,”Anakku, tidak ada kebaikan pada agama itu. Agamamu dan agama nenek-moyangmu lebih baik darinya.”

Salman menolak anggapan ayahnya: “Sekali-kali tidak, demi Allah. Sesungguhnya agama itu lebih baik dari agama kita”.

Kemudian ayahnya mengancam anaknya itu, mengalungkan rantai di kaki dan menahan Salman tetap di dalam rumah.[1]

Dalam keadaan seperti itu, Salman meminta seseorang untuk menemui orang-orang Nashara, untuk menyampaikan, jika datang rombongan pedagang Nashara dari Syam kepada mereka, agar memberitahukan kepadanya. Kemudian ia pun mendapat berita yang ia inginkan.

Ketika para pedagang Nashara ini hendak pulang kembali ke negeri mereka, maka rantai besi yang melilitnya, ia putuskan dan kemudian Salman pergi bersama mereka, dan akhirnya sampai ke Syam.

Sesampainya di Syam, Salman bertanya: “Siapakah orang yang terbaik dari para pemeluk agama ini?”

Mereka menjawab: “Uskup yang berada di dalam gereja”.

Salman pun mendatangi orang yang dimaksud, lantas berkata: “Sesungguhnya aku menyukai agama ini dan ingin hidup bersamamu. Melayanimu di gereja, belajar denganmu dan mengerjakan shalat bersamamu”.

Uskup itu menjawab: “Masuklah!”

Akan tetapi, ternyata pendeta tersebut seorang yang berperangai buruk; menyuruh orang bersedekah dan menganjurkannya. Bila barang-barang telah terkumpul padanya, pendeta itupun menyimpannya untuk kepentingan pribadi, bukan untuk para fakir-miskin. Bahkan pendeta itu berhasil mengumpulkan tujuh tempayan berisi emas dan perak. Serta merta, kebencian kepada lelaki tersebut menyelinap pada diri Salman, begitu menyaksikan perbuatan sang pendeta.

Hingga saatnya kematian menjemput sang pendeta. Orang-orang Nashara berkumpul untuk menguburnya. Salman pun membuka kedok pendeta ini.

Salman berkata,”Sesungguhnya ini orang jelek. Memerintahkan kalian untuk bersedekah dan menganjurkannya. Bila kalian sudah menyerahkan kepadanya, ia menyimpannya untuk kepentingannya sendiri, tidak memberi kaum miskin apapun.”

Orang-orang bertanya: “Darimana engkau tahu?”
“(Mari) aku tunjukkan simpanan hartanya,” jawab Salman.
Mereka menjawab,”Tunjukkan kami.”

Salman menuju tempat penyimpanan harta si pendeta itu. Orang-orang pun akhirnya berhasil mengeluarkan dari tempat itu sebanyak tujuh tempayan penuh dengan emas dan perak. Setelah menyaksikan, mereka berseru: “Demi Allah, kami tidak akan menguburnya selama-lamanya,” maka mereka lantas menyalib lelaki tersebut dan melemparinya dengan bebatuan.

Kemudian, orang-orang mengangkat lelaki lain sebagai penggantinya. Keadaan lelaki ini lebih baik dari yang terdahulu, lebih zuhud terhadap dunia dan sangat memperhatikan masalah akhirat. Tidak ada orang yang lebih menjaga malam dan siangnya dari orang ini. Salman sangat mencintainya. Untuk beberapa lama, ia hidup bersama pendeta ini. Hingga saat ajal mendatangi pendeta itu, Salman berkata kepadanya.

“Wahai Fulan, aku telah bersamamu, benar-benar mencintaimu dengan kecintaan yang besar. Sementara itu, telah datang kepadamu keputusan Allah yang telah engkau saksikan (kematian). Kepada siapakah engkau berpesan bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Ia menjawab,”Wahai anakku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun sekarang ini yang berada di atas ajaranku. Orang-orang sudah binasa dan merubah-rubah (ajaran), dan telah meninggalkan banyak ajaran-ajaran sebelumnya, kecuali satu lelaki di Moshul. Yaitu Si Fulan. Ia masih sama dengan ajaranku. Ke sanalah!”

Ketika ia meninggal dan dikubur, Salman pun menemui lelaki yang dimaksud.
“Wahai Fulan, sesungguhnya Si Fulan telah berwasiat keapdaku saat akan meninggal, untuk menjumpaimu dan memberitahuku, bahwa engkau berada di atas ajarannya,” kata Salman.

Lelaki itu menjawab: “Hiduplah bersamaku”.

Selanjutnya, Salman hidup bersamanya. Lelaki ini adalah sosok yang baik. Namun, tidak berapa lama, ia pun meninggal. Ketika kematian akan mendatanginya, Salman memohon kepadanya:

“Wahai fulan, sesungguhnya Fulan dulu berpesan kepadaku untuk menemuimu dan memerintahkanku untuk menjumpaimu. Sekarang telah datang (keputusan) dari Allah, seperti yang engkau saksikan. Kepada siapakah engkau berwasiat bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?

Ia menjawab,”Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui ada seseorang yang berada di atas kami, kecuali seorang lelaki di daerah Nashibin, yaitu Fulan. Temuilah ia!”

Ketika lelaki ini meninggal dan telah dikuburkan, Salman melaksanakan wasiat itu. Setelah berhasil menjumpai lelaki yang dimaksud, Salman pun menceritakan tentang dirinya dan wasiat yang disampaikan oleh pendeta sebelumnya.
Laki-laki menjawab: “Hiduplah bersamaku!”

Sosok laki-laki ini pun sama dengan dua kawannya. Dan tidak berapa lama kemudian, kematian mendatanginya. Ketika ia sedang sakaratul maut, Salman berkata kepadanya: “Wahai fulan, sesungguhnya Fulan (pendeta pertama), berpesan kepadaku untuk menjumpainya Fulan (pendeta kedua). Lalu ia berpesan kepadaku untuk menemuimu. Kepada siapa engkau berwasiat untukku? Apa yang engkau perintahkan?”

Ia menjawab: “Wahai anakku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seseorang yang tetap berada di atas ajaran kami yang aku perintahkan engkau menemuinya, kecuali seseorang di daerah ‘Amuriyyah. Ia masih sama dengan ajaran kami. Jika engkau mau, datangilah, sesungguhnya ia masih berada di atas ajaran kami!”

Usai penguburan, Salman pun pergi untuk menjumpai pendeta di ‘Amuriyah dan menyampaikan kepadanya tentang dirinya. Pendeta itu pun berkata: “Menetaplah bersamaku!”

Salman hidup bersama dengan insan yang selaras dengan petunjuk dan tindak-tanduk kawan-kawannya. Ia pun dapat bekerja, sampai memiliki sapi-sapi dan kambing. Hingga kemudian datang juga keputusan Allah, yaitu kematian mendatangi pendeta ini. Ketika si pendeta mengahadapi sakaratul maut, Salman berkata kepadanya:

“Dulu aku bersama Fulan, kemudian ia berwasiat kepadaku untuk menjumpai Fulan. Dan lantas ia berpesan kepadaku untuk menemui Fulan. Dan selanjutnya berwasiat untuk mendatangimu. Kepada siapakah engkau berwasiat bagiku? Apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Dia menjawab,”Wahai anakku. Aku tidak mengetahui ada orang yang masih berada di atas ajaran kami yang aku memerintahkan kepadamu untuk menjumpainya. Akan tetapi, telah datang kepadamu masa nabi (yang baru). Ia diutus di atas agama Ibrahim, bangkit di tanah Arab, melakukan hijrah ke tempat antara dua bukit batu yang pernah terbakar. Di sana tumbuh pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda-tanda yang tidak tersembunyi; mau makan hasil hadiah, tidak makan sedekahDI ANTARA DUA PUNDAKNYA TERDAPAT TANDA KENABIAN. Jika engkau bisa pergi ke negeri itu, lakukanlah!”

Di ‘Amuriyah, cukup lama Salman menghabiskan waktu di sana, hingga datanglah rombongan pedagang dari Bani Kalb, dan Salman pun berkata kepada mereka: “Maukah kalian membawaku ke Negeri Arab dan aku akan memberi kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?”

Mereka menjawab,”Baiklah!”

Salman memberikan itu semua kepada mereka dengan imbalan tumpangan sampai ke tanah Arab. Akan tetapi, mereka berbuat kenistaan kepadanya, dengan menjual dirinya kepada seorang lelaki Yahudi, layaknya seorang budak belian. Maka, Salman pun tinggal bersama lelaki Yahudi itu. Dan ternyata, Salman menyaksikan adanya pepohonan kurma di situ. Dia pun berharap, inilah tempat yang digambarkan kawannya (pendeta), tetapi ia belum merasa yakin.

Hingga suatu saat, datanglah kemenakan lelaki Yahudi itu dari Madinah. Yaitu dari Bani Quraizhah. Dia membeli Salman dari pamannya dan membawanya ke Madinah. Di kota Madinah ini, Salman menemukan kesesuaian dengan yang digambarkan pendeta terakhir yang ia jumpai. Salman akhirnya menghabiskan waktunya sebagai budak dengan majikan yang baru.

Berita tentang hijrah Nabi yang dibangkitkan di tanah Arab ke Madinah sudah tersiar. Saat pertama kali mendengar berita itu, Salman sedang berada di atas pohon kurma milik majikannya. Sedangkan majikannya sedang duduk.

Tiba-tiba kemenakan sang majikan ini datang dan berdiri di hadapannya, sambil berkata: “Semoga Allah memerangi Bani Qailah. Demi Allah, mereka sekarang berkumpul di Quba, mengelilingi seorang lelaki yang datang dari Mekkah hari ini, yang mengaku dirinya seorang Nabi”.

Ketika Salman mendengarnya, seluruh tubuhnya gemetar, sampai mengira hampir jatuh menimpa majikan yang berada di bawahnya. Lalu Salman turun dari pohon kurma, dan bertanya kepada kemenakan si majikan: “Apa yang engkau katakan? Apa yang engkau katakan?”

Sang majikan marah dan menampar pipinya dengan pukulan yang sangat keras, lantas berkata,”Apa urusanmu dengannya? Teruslah bekerja!”

Salman menjawab,”Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui ucapannya saja.”

Sebelumnya, Salman telah mempunyai sesuatu (kurma) yang telah ia kumpulkan. Saat sore harinya, ia pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang sedang berada di Quba.

Kata Salman,”Telah sampai kepadaku berita, kalau engkau orang yang baik, (datang) bersama para sahabatmu yang asing lagi memerlukan bantuan. Ini ada sesuatu untuk sedekah. Aku melihat kalian sangat berhak daripada orang lain,” maka aku pun mendekatkan (sedekah itu) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Rasulullah berkata kepada para sahabat: “Makanlah,” tetapi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menahan tangannya dan tidak mau makan.

Salman berkata dalam hati: “Ini tanda pertama”.

Pada kesempatan berikutnya, Salman mengumpulkan sesuatu dan Rasulullah telah tinggal di Madinah. Salman berkata,”Aku melihatmu tidak mau makan sedekah. Ini adalah hadiah, aku ingin memuliakan dirimu dengannya,” maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memakannya, dan menyuruh para sahabat ikut makan bersama beliau.

Dalam hati, Salman berkata: “Ini tanda kedua”.

Berikutnya, Salman mendatangi Rasulullah ketika berada di Baqi Gharqad, yaitu ketika sedang melayat jenazah salah seorang sahabatnya. Beliau mengenakan dua kain, duduk di antara para sahabat.

Maka, Salman datang dan melontarkan salam kepada beliau. Setelah itu, ia berputar ke belakang untuk melihat punggung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , untuk memastikan tanda kenabian yang disebutkan oleh pendeta. Ketika Rasulullah menyadari keingintahuan Salman, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melepaskan kain atasnya dari punggung, dan Salman menyaksikan tanda kenabian tersebut, sebagaimana ia mengenalnya dari cerita yang pernah ia dengar.

Kemudian, Salman segera mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , menciumi tanda itu dan menangis. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Salman: “Kemarilah,” maka aku ke depan beliau, dan aku bercerita kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . .


Tejadi kesamaan yang mengagumkan dari kisah Pendeta Buhaira dan Kisah Salman Al-Farisi.

Pendeta Buhaira:

“When you appeared from the direction of ‘Aqabah, all stones and trees prostrated themselves, which they never do except for a Prophet. I can recognize him also by the  SEAL OF PROPHETHOOD WHICH IS BELOW HIS SHOULDER , like an apple. We have got to learn this from our books.”

Pendeta guru dari Salman Al-Farisi berwasiat:

Dia menjawab,”Wahai anakku. Aku tidak mengetahui ada orang yang masih berada di atas ajaran kami yang aku memerintahkan kepadamu untuk menjumpainya. Akan tetapi, telah datang kepadamu masa nabi (yang baru). Ia diutus di atas agama Ibrahim, bangkit di tanah Arab, melakukan hijrah ke tempat antara dua bukit batu yang pernah terbakar. Di sana tumbuh pohon kurma. Pada dirinya terdapat tanda-tanda yang tidak tersembunyi; mau makan hasil hadiah, tidak makan sedekahDI ANTARA DUA PUNDAKNYA TERDAPAT TANDA KENABIAN. Jika engkau bisa pergi ke negeri itu, lakukanlah!”

Inilah kesaksian para sahabat Nabi Muhammad SAW tentang TANDA KENABIAN NABI SAW (SEAL OF PROPHETHOOD).

http://www.inter-islam.org/hadeeth/st2.htm

Jaabir bin Samurah (Radhiallahu Anhu reports that: “I saw the Seal of Prophethood of Rasullullah (Sallallahu alaihi wasallam) between his two shoulders, which was like a red tumour (protruding flesh), the size of which was like that of a pigeon’s egg”.

Ebrahim bin Muhammad (Radhiallahu Anhu), who is the granson of Ali (Radhiallahu anhu said: “Whenever Ali (Radhiallahu Anhu) used to discribe the noble attributes of Rasullullah (Sallallahu Alaihi wasallam), he used to mentioned the complete hadith.  He also used to say that the Seal of Prophethood was between his shoulders, and Rasullullah (Sallallahu alaihi wasallam) was the seal of all prophets”.

Abdullah bin Sarjas Radiyallahu ‘Anhu says: “I came to Rasulullah Sallallahu ‘Alayhi Wasallam while there were people sitting in his company. I went around to the back of Rasulullah Sallallahu ‘Alayhi Wasallam (The narrator may have done this physically). Rasulullah Sallallahu ‘Alayhi Wasallam understood what I was trying to do. He removed the sheet (body wrap) from his back. I saw the place of the Seal of Prophethood between his two shoulders. It was like a cluster surrounded by til (moles) which appeared to be like a wart.

Dari kisah salman Al-Farisi, selain TANDA KENABIAN DIANTARA KEDUA PUNDAKNYA, terdapa nubuat lain:

Nabi yang akan datang TIDAK MENERIMA SEDEKAH , TETAPI MENERIMA HADIAH.

Ini cuplikan dari hadith-hadith.

http://e-muamalat.gov.my/e-hadith/nabi-menerima-hadiah-dan-menolak-sedekah

Hadits Muslim 1790

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَلَّامٍ الْجُمَحِيُّ حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنَ مُسْلِمٍ عَنْ مُحَمَّدٍ وَهُوَ ابْنُ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ أَكَلَ مِنْهَا وَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا

Telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Sallam Al Jumahi] telah menceritakan kepada kami [Ar Rabi’ bin Muslim] dari [Muhammad bin Ziyad] dari [Abu Hurairah] bahwasanya; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberi makanan, maka beliau pasti menanyakannya. Bila dikatakan bahwa itu adalah hadiah, maka beliau memakannya, dan bila dikatakan bahwa itu adalah sedekah, maka beliau tidak memakannya.”

Kesimpulan dari Kisah Salman Al-Farisi, Nabi yang akan datang:

  1. Berasal dari AGAMA IBRAHIM.
  2. Dilahirkan di TANAH ARAB
  3. Melakukan HIJRAH
  4. Terdapat TANDA KENABIAN DIANTARA KEDUA BAHUNYA.
  5. Tidak menerima SEDEKAH tapi menerima HADIAH

Semua itu merujuka pada Nabi Muhammad SAW dan semua NUBUAT dari naskah-naskah lama sudah dihapus oleh tangan mereka.